Home » Ekonomi » Dollar Naik, Rezim Runtuh?

Dollar Naik, Rezim Runtuh?

Dhio Justice Law 17 Mei 2026 258

Oleh: Ridwan Umar

(Direktur Lentera Keadilan Indonesia – LAKI)

NasionalPos.Com, Jakarta – Setiap kali dolar naik dan rupiah melemah, yang bergetar bukan hanya pasar keuangan. Politik pun ikut berguncang.

Di Indonesia, nilai tukar bukan sekadar angka ekonomi. Ia adalah indikator psikologis kekuasaan. Ketika rupiah melemah terlalu dalam, publik mulai mempertanyakan satu hal paling mendasar: apakah negara masih benar-benar memegang kendali?

Rakyat mungkin tidak memahami mekanisme moneter global, suku bunga The Fed, atau arus modal internasional. Tetapi rakyat memahami harga. Mereka merasakan beras yang naik, cicilan yang terasa lebih berat, biaya hidup yang makin menekan, dan lapangan kerja yang makin sulit.

Di titik itu, ekonomi berhenti menjadi urusan teknokrat. Ia berubah menjadi ancaman politik.

Sejarah menunjukkan bahwa rezim jarang jatuh hanya karena oposisi kuat. Banyak kekuasaan justru mulai retak ketika tekanan ekonomi membuat rakyat kehilangan rasa aman. Ketika kebutuhan pokok terasa makin mahal, kepercayaan publik perlahan terkikis. Dan bagi kekuasaan, hilangnya kepercayaan selalu lebih berbahaya daripada kritik.

Masalah terbesar dari kenaikan dolar sebenarnya bukan pada kurs itu sendiri, melainkan pada efek psikologisnya. Dolar yang terus naik menciptakan kesan bahwa negara sedang berada dalam tekanan. Investor mulai ragu. Pelaku usaha menahan ekspansi. Kelas menengah mulai cemas. Elite politik mulai membaca arah angin.

Baca Juga :  Soal Pengondisian Temuan BPK, Sekjen Kemenhub Diperiksa KPK

Dalam politik modern, persepsi sering kali lebih menentukan daripada kenyataan.

Sebuah pemerintahan masih bisa bertahan dalam ekonomi yang sulit selama publik percaya pemimpinnya mampu mengendalikan keadaan. Tetapi ketika muncul kesan bahwa pemerintah mulai kehilangan kontrol, kepanikan bisa menyebar jauh lebih cepat daripada krisis itu sendiri.

Di era media sosial, keadaan menjadi lebih rumit. Pelemahan rupiah bukan lagi sekadar berita ekonomi di halaman bisnis. Ia berubah menjadi amunisi politik, bahan propaganda, dan alat pembentukan opini publik.

Narasi seperti “negara menuju krisis”, “rupiah hancur”, atau “investor kabur” memiliki daya ledak politik yang besar—bahkan ketika kondisi fundamental belum tentu separah itu.

Karena itu, stabilitas ekonomi hari ini tidak cukup dijaga dengan kebijakan fiskal dan moneter semata. Ia juga dijaga melalui kemampuan negara mengelola persepsi.

Di sinilah kualitas kepemimpinan diuji.

Publik tidak selalu menuntut keadaan sempurna. Tetapi publik ingin melihat ketenangan, arah yang jelas, dan keyakinan bahwa pemerintah memahami situasi. Ketika pemimpin terlihat panik, pasar ikut panik. Ketika elite terlihat saling menyalahkan, ketidakpercayaan tumbuh lebih cepat.

Baca Juga :  Kapolres Pesisir Selatan Imbau Masyarakat Bijak Bermedia Sosial, Jangan Terprovokasi

Dalam konteks Indonesia, tekanan dolar juga memiliki dimensi historis yang sensitif. Bangsa ini pernah mengalami trauma besar ketika krisis moneter menghancurkan stabilitas ekonomi dan meruntuhkan kekuasaan yang sebelumnya tampak begitu kuat. Karena itu, setiap pelemahan rupiah selalu membawa bayang-bayang sejarah yang tidak pernah benar-benar hilang dari memori politik nasional.

Namun kondisi hari ini tentu berbeda dengan 1998. Sistem perbankan lebih kuat, cadangan devisa lebih besar, dan kontrol negara terhadap sektor keuangan jauh lebih baik. Tetapi satu hal tetap sama: kekuasaan selalu bergantung pada kepercayaan.

Dan kepercayaan adalah sesuatu yang bisa melemah jauh lebih cepat daripada nilai tukar.

Kenaikan dolar mungkin tidak langsung menjatuhkan rezim. Tetapi jika ia bertemu dengan pengangguran, korupsi, ketimpangan, dan kemarahan sosial, maka tekanan ekonomi bisa berubah menjadi delegitimasi politik.

Sebab pada akhirnya, rezim tidak runtuh dalam satu malam.

Ia melemah perlahan—ketika rakyat mulai lelah, kelas menengah mulai pesimis, dan elite mulai menjaga jarak. (X)

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Sekda Lubuk Linggau Hadiri Simposium Internasional Rakernas JKPI XII

Andi Ledi Lubuk Linggau

27 Agu 2026

Nasionalpos.com-Sekretaris Daerah Kota Lubuk Linggau, H Trisko Defriyansa, menghadiri Simposium Internasional bertema “Pulau-Pulau Penghasil Rempah”, Kamis (27/8/2026), di Gamalama Ballroom Bela Hotel, Kota Ternate. Kegiatan tersebut merupakan salah satu rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakerna) JKPI XII yang berlangsung pada 26–30 Agustus 2026. Baca Juga :  Pelapor berharap,polisi menetapkan KADES NAR (Suami anggota DPRD Kab. Mojokerto)sebagai …

Saat RUU Perampasan Aset Jadi Ancaman Ekosistem Kekuasaan

Dhio Justice Law

26 Agu 2026

Oleh: Ridwan Umar Direktur Lentera Keadilan Indonesia (LAKI)   NasionalPos.com, Jakarta – Mengapa RUU Perampasan Aset tak kunjung disahkan? Jawaban yang paling sering terdengar adalah karena persoalan hukumnya rumit. DPR harus berhati-hati. Ada kekhawatiran penyalahgunaan kewenangan, perlindungan hak milik, pembuktian terbalik, hingga mekanisme perampasan aset tanpa putusan pidana. Terdengar semua alasan itu masuk akal. Tetapi …

Meneladani Akhlak Rosulullah SAW Sebagai Qudwah Berbangsa dan Bernegara

dito

25 Agu 2026

Nasionalpos.com, Jakarta- Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia memperingati kelahiran Rasulullah SAW dengan penuh cinta dan penghormatan.     Momen ini dikenal sebagai Maulid Nabi Muhammad SAW, yang tidak hanya menjadi perayaan sejarah kelahiran manusia agung, tetapi juga momentum untuk merenungi nilai-nilai kehidupan yang beliau ajarkan, demikian di sampaikan oleh Dr KH Yusuf Aman …

Kabinet Gagal, Reshuffle Menjadi Keharusan

Dhio Justice Law

24 Agu 2026

Oleh: Ridwan Umar Direktur Lentera Keadilan Indonesia (LAKI) NasionalPos.com, Jakarta – Seiring perjalanan, masalah besar dan sulit diabaikan dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto: semangat perubahan yang dijanjikan belum sepenuhnya tercermin dalam kinerja kabinetnya. Publik mencatat, Prabowo datang dengan agenda besar  pemberantasan korupsi, kedaulatan ekonomi, efisiensi, penguasaan sumber daya alam, dan keberpihakan kepada rakyat. Namun visi …

Ojol jadi UMKM, ganti Istilah bukan Ganti nasib, Perpres no 27 tahun 2026 Rentan Di gugat Di batalkan

dito

23 Agu 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Ojol bakal resmi menyandang status UMKM. Pemerintah bilang ini kabar baik. Tapi coba tanya: apa yang benar-benar berubah buat pengemudi di jalan?     Selama bertahun-tahun, status ojol ada di zona abu-abu, bukan buruh, bukan juga pengusaha. Sekarang lewat Perpres 27/2026, status itu “diselesaikan.” Jutaan pengemudi otomatis jadi pelaku usaha mikro. Tanpa daftar. …

TB Massa: Prabowo Pimpin Revolusi Atau Melanjutkan Pola Rezim Lama?

Dhio Justice Law

23 Agu 2026

NasionalPos.com, Jakarta – Saatnya Presiden Prabowo Subianto memimpin revolusi untuk menjawab keraguan rakyat. Saat ini, ada sebagian masyarakat yang menilai Pemerintahan Prabowo hanya kelanjutan dari rezim Jokowi. Pengamat politik sekaligus Ketua Program Studi Doktor Ilmu Politik Universitas Nasional (Unas) Jakarta, Assoc. Prof. Dr. TB Massa Djafar, mengatakan keresahan masyarakat terhadap berbagai persoalan nasional semakin meningkat. …

x
x