Home » Headline » Prabowo Pahamilah Filosofi Siri’ Na Pacce

Prabowo Pahamilah Filosofi Siri’ Na Pacce

Dhio Justice Law 12 Nov 2025 387

Oleh: Ridwan Umar

(Sekjen Gerakan Daulat Bumiputera dan Direktur Lentera Keadilan Indonesia-LAKI)

 

NasionalPos.com, Jakarta – Himbauan Presiden Prabowo Subianto kepada rakyat untuk menghormati pemimpin dan mantan pemimpin dengan cara mengangkat setinggi-tingginya kebaikannya dan memendam kekurangannya, masih menjadi bahan perdebatan di tengah masyarakat.

Bagi publik, pernyataan Prabowo saat peresmian Pabrik Lotte Chemical Indonesia di Cilegon, Banten, Kamis (6/11/2025) tersebut, tentu memiliki makna atau pesan mendalam mengingat posisinya sebagai kepala negara.

Terlebih, himbauan Prabowo itu dibalut dalam kalimat filosofi Jawa, yakni mikul duwur mendem jero atau kurang lebih diartikan memikul (menjunjung) tinggi kehormatan (leluhur, orangtua, guru atau pemimpin) dan mengubur (menyembunyikan atau menutup dalam) aib, kekurangan, kesalahan leluhur, orangtua, guru atau pemimpin. Sampai disitu, tentu publik bisa menerima makna luhur dan mulia dibalik kalimat tersebut.

Namun, kalimat berikutnya yang dilontarkan Prabowo menyinggung kedekatannya dengan mantan Presiden Jokowi yang sedang dikritik keras publik terkait sejumlah dugaan skandal korupsi, kolusi, nepotisme (KKN), tak pelak membuat geram publik.

Prabowo pun menyebut Jokowi sebagai hopeng (dialek hokkian, Tionghoa yang berarti teman baik). Disisi lain, Prabowo juga menyatakan bertanggungjawab penuh atas kisruh pembayaran hutang proyek kereta cepat Woosh yang diduga ada mark-up dan ditengarai menyeret Jokowi, Luhut dan Erick Thohir.

Prabowo menyatakan akan menggunakan uang rakyat melalui pajak untuk melunasi hutang Indonesia kepada China terkait proyek kereta cepat Woosh.

Pernyataan itupun dimaknai publik sebagai upaya Prabowo untuk ‘pasang badan’ melindungi Jokowi, keluarganya dan kroninya yang diduga terseret sejumlah kasus KKN dan dugaan kebohongan publik serta pelanggaran konsitusi terkait ijazah Presiden Jokowi dan sang anak Gibran Rakabuming Raka yang kini menjabat wapres. Kini, kasus ijazah Jokowi telah menjadikan Rismon Cs sebagai tersangka fitnah dan sebelumnya Gus Nur dan Bambang Tri telah dibui.

 

Raja Majapahit Tak Anti Kritik

Baca Juga :  HKTI Dorong Subsidi Listrik Khusus Buat Petani

Jika kritik rakyat yang dilontarkan kepada pemimpinnya dimaknai sebagai sikap tidak sopan atau tidak menghormati pemimpin dan dianggap bertentangan dengan filosofi mikul duwur mendem jero, maka mari kita coba bercermin pada kisah legendaris Raja Majapahit Hayam Wuruk.

Dikisahkan, seorang pejabat tinggi keagamaan Buddha bernama Mpu Prapanca mengkritik sang Raja Hayam Wuruk penganut agama Hindu Siwa karena diangap tak adil pada rakyatnya.

Raja Hayam Wuruk yang beragama Hindu Siwa lebih mementingkan pembangunan dan pemeliharaan tempat ibadah Umat Hindu Siwa. Lalu, Mpu Prapanca mewakili umat Buddha mengirim surat kepada Raja Hayam Wuruk sebagai bentuk ‘protes’ atau kritik. Menerima kritik dari bawahannya yang mewakili sebagian rakyatnya itu, Raja Hayam Wuruk tidak tersinggung apalagi marah. Dengan bijak, Raja Hayam Wuruk bukan hanya menerima kritik itu, tapi langsung menindaklanjuti dengan bersikap adil soal pembangunan dan pemeliharaan tempat ibadah semua agama yang dianut rakyatnya.

Di sisi lain, dalam budaya Jawa juga dikenal tapa pepe atau ritual mengadu kepada raja. Tradisi tapa pepe di Kraton Yogyakarta Hadiningrat merupakan perwujudan dari sikap jiwa besar dari sang raja yang mau mendengar keluhan rakyatnya.

Rakyat atau abdi dalem berhak menyampaikan keluhan atau aspirasi langsung kepada sang raja dengan menggelar tapa pepe, caranya duduk berjemur di bawah terik matahari di Alun-alun Kraton.

Ritual tapa pepe ini, tampaknya ada kemiripan dengan cara mahasiswa atau masyarakat yang menggelar aksi protes di depan gedung parlemen atau kantor pemerintahan.

Maka sepatutnya, pemimpin negeri ini bisa mencontoh para leluhur yang bijak dalam memimpin. Pemimpin sejati tak boleh marah apalagi represif juga tak boleh sekedar mendengar tapi menindaklanjuti keinginan rakyatnya dengan penuh tanggungjawab.

 

Filosofi Siri’ Na Pacce

Sebenarnya, setiap leluhur suku-suku di negeri tercinta ini telah mewariskan nilai-nilai luhur nan mulia bagi penerusnya. Tak satupun nilai buruk yang diajarkan, bukan hanya untuk kemaslahatan suku atau golongan tapi juga dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Baca Juga :  Pemimpin Dalam Menghadapi Invasi Asing

Akan halnya suku Bugis – Makassar yang memegang teguh falsafah hidup siri’ na pacce. Dalam lontara La Toa yang berisi petuah-petuah (paseng), makna siri’ adalah harga diri atau kehormatan atau bisa bermakna pernyataan sikap yang tidak serakah terhadap kehidupan duniawi. Sedangkan makna pacce adalah rasa empati atau soliditas terhadap sesama anggota komunitas yang dalam konsep bernegara bisa dimaknai soliditas sesama anak bangsa.

Dalam kehidupan sosial bermasyarakat, suku Bugis- Makassar dituntut memiliki keberanian, pantang menyerah sehingga memiliki orientasi yang sanggup menghadapi semua tantangan hidup.

Karena itu, suku Bugis – Makassar berpedoman pada paseng leluhur yakni senantiasa berkata benar (ada’ tongeng), jujur atau bersikap lurus (lempu), memiliki sikap, keyakinan dan pendirian (getteng), saling menghormati (sipakatuo), pasrah/tawakkal pada kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa (mappesona ri dewata seuwae).

Itulah wujud dari filosofi siri’ na pace yang dipegang teguh suku Bugis – Makassar untuk menjaga kehormatan dan soliditas antarsesama. Seorang keturunan Bugis – Makassar harus berani mengatakan kebenaran dihadapan pemimpin. Sebaliknya, pemimpin harus berani menanggung resiko dari kesalahan yang telah dilakukan, misalnya dengan meminta maaf atau mengundurkan diri dan menanggung dampak hukum atas perbuatannya. Pemimpin tak boleh larut dan haus pujian.

Bercermin dari hal di atas, maka pemimpin sejati itu tidak anti kritik dan pantang berlindung dibalik filosofi mulia leluhur demi mempertahankan kekuasaan. Demi harga diri, seorang pemimpin sejati harus mengutamakan kemaslahatan bangsa diatas kepentingan hopeng, kelompok dan keluarga.

Maka, selayaknya Presiden Prabowo lebih memahami filosofi dari berbagai suku di negeri ini, termasuk siri’ na pacce dari Bugis – Makassar.

 

Wallahu a’lam bishawab

(Tulisan ini disari dari beragam sumber)

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Respons Aspirasi Pedagang, Pemdes Cipendeuy Buka Dialog Soal Sistem Parkir Pasar Cipeundeuy

Dewi Apriatin

02 Mar 2026

Bandung Barat,NASIONALPOS .COM<>   2 Maret 2026 – Pemerintah Desa Cipendeuy, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat, angkat bicara terkait polemik pemasangan sistem gateway parking di Pasar Tradisional Cipeundeuy yang sebelumnya disebut dilakukan tanpa sosialisasi dan perencanaan matang. Kepala Desa Cipendeuy, Rusmana, menegaskan bahwa proyek tersebut bukanlah kebijakan mendadak. Menurutnya, program itu telah dirancang sejak beberapa bulan …

Momentum Kedua Anas Urbaningrum dalam Pentas Politik Nasional

Dhio Justice Law

01 Mar 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia-LAKI) NasionalPos.com, Jakarta – Pesta Demokrasi Tanah Air masih tiga tahun lagi, namun publik mencermati mesin politik mayoritas partai politik mulai dipanaskan. Branding partai dan sosok atau figure pun dibangun. Meski ada pesimis dibenak sebagian publik Tanah Air menyaksikan sepak terjang para elit politik yang kerap mengecewakan dan tak …

Tanda Tangan Ketua DPRD Diduga Dipalsukan, Skandal Undangan PAW Pesibar Memanas: Siapa Aktor Intelektualnya

Admin Redaksi

28 Feb 2026

NASIPNALPOS.com PESISIR BARAT, 28 Februari 2026 – Aroma skandal mencuat dari gedung DPRD Kabupaten Pesisir Barat. Tanda tangan Ketua DPRD dalam surat undangan pertama pelantikan Pergantian Antar Waktu (PAW) anggota DPRD diduga dipalsukan. Kasus yang sempat menjadi bisik-bisik internal kini resmi memasuki babak hukum. Ketua DPRD Kabupaten Pesisir Barat, Mohammad Emir Lil Ardi, atau yang …

Darurat Tak Bisa Menunggu: Dugaan Kelalaian IGD RSUD Cikalong Wetan Uji Kepatuhan Hukum

Dewi Apriatin

27 Feb 2026

Darurat Tak Bisa Menunggu: Dugaan Kelalaian IGD RSUD Cikalong Wetan Uji Kepatuhan Hukum BANDUNG BARAT – Dugaan tersendatnya penanganan pasien sesak napas di IGD RSUD Cikalong Wetan bukan sekadar isu pelayanan. Ini menyentuh jantung kewajiban hukum rumah sakit dalam kondisi gawat darurat. Video yang beredar memperlihatkan kepanikan keluarga yang merasa anaknya tidak segera ditangani. Di …

KOBAR: Pejuang Demokrasi Hingga Misi Kemanusiaan

Dhio Justice Law

26 Feb 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia-LAKI)   NasionalPos.com, Jakarta – Pada 25 Februari 2026, Komando Barisan Rakyat (KOBAR) genap berusia 11 tahun. Sebagai sebuah organisasi gerakan, perjalanan panjang telah dilalui KOBAR. Ia telah melalui sejumlah fase; Pembentukan, Konsolidasi, ujian internal hingga ujian eksternal. Dalam pengamatan publik, KOBAR pun telah melewati beragam dinamika tak hanya …

Lisda Hendrajoni Tinjau Korban Banjir dan Longsor di Bayang Utara, Salurkan Bantuan Ramadan untuk 31 KK

Primadoni,SH

25 Feb 2026

Pesisir Selatan, Nasionalpos.com — Anggota Komisi VIII DPR RI, Lisda Hendrajoni, melakukan kunjungan ke lokasi Hunian Sementara (Huntara) korban banjir dan longsor di Nagari Puluik-Puluik, Kecamatan Bayang Utara, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Rabu (23/2). Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung kondisi warga terdampak bencana yang saat ini masih menempati Huntara. Sebanyak …

x
x