Home » Headline » Saatnya Pilih Rakyat Atau Benalu

Saatnya Pilih Rakyat Atau Benalu

Dhio Justice Law 30 Agu 2025 566

Oleh: Ridwan Umar
(Direktur Lentera Keadilan Indonesia-LAKI

 

NasionalPos.com, Jakarta – Pada Jumat (29 Agustus 2025) malam, Presiden Prabowo Subianto beserta rombongan Istana melayat ke rumah duka (almarhum) Affan Kurniawan di kawasan Blora, Menteng, Jakarta Pusat.

 

Affan yang sehari-hari berprofesi sebagai pengemudi ojek online (ojol) meninggal setelah dilindas mobil Brimob saat aksi unjuk rasa ribuan buruh menolak kenaikan tunjangan perumahan anggota DPR-RI pada Kamis (28 September 2025). Sebelumnya pada Senin (25 September 2025) aksi serupa oleh pelajar dan mahasiswa juga berlangsung di depan gedung wakil rakyat, Senayan, Jakarta

 

Saat itu sudah malam di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, Affan memarkir motor lalu menyeberang untuk mengantar pesanan pelanggan. Tetiba sebuah mobil Rantis (kendaraan taktis) barracuda milik Brimob menabraknya hingga tubuhnya terlindas dan terseret. Sejumlah massa yang menyaksikan peristiwa itu spontan berusaha memberhentikan mobil Rantis Brimob itu, namun mobil terus melaju meninggalkan tubuh Affan. Massa pun langsung membopong tubuh Affan ke mobil ambulan, namun Affan akhirnya mengembuskan nafas terakhir di RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo).

 

Presiden Prabowo tak hanya sekedar melayat, tapi juga telah berjanji untuk membantu keluarga Affan dan mengusut kasusnya secara transparan dan menghukum semua pelakunya.

 

Perhatian khusus yang dijanjikan Presiden itu sangat tepat bagi keluarga Affan yang tergolong miskin. Affan merupakan tulang punggung keluarganya. Sehari-hari Affan membanting tulang untuk membantu perekonomian keluarga termasuk membantu biaya pendidikan adiknya.

 

Namun, fenomena kehidupan miskin, sebenarnya bukan hanya dialami keluarga Affan. Di negeri ini jumlah rakyat miskin yang mengais rejeki untuk sekedar bertahan hidup sangat banyak dan itu semua tanggungjawab pemerintah. Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) per Maret 2025 jumlah orang miskin di Indonesia mencapai 23,85 juta jiwa.

 

Fakta lain, seorang balita usia 4 tahun bernama Raya dari keluarga miskin di Sukabumi, Jawa Barat akhirnya meninggal akibat cacingan. Pemandangan miris juga ada di acara pernikahan anak Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dimana tiga orang meninggal ditengah ribuan rakyat yang berebut makan gratis.

Baca Juga :  Karo Rena Polda NTB Buka Kegiatan Penyusunan Pagu Minus Belanja Pegawai Satker Polda NTB

 

Belum lagi, kehidupan anak-anak dari keluarga miskin di wilayah lain yang harus menyeberang sungai untuk sampai ke sekolah, serta para guru yang berjuang keras dengan gaji sangat minim bahkan diluar nalar. Ironisnya, disaat yang sama para elit negeri ini termasuk sejumlah pembantu Presiden dan orang-orang di lingkar Istana kerap memamerkan kemewahan hidup keluarganya.

 

Jika dicermati, kenaikan tunjangan perumahan bagi anggota DPR-RI sebesar Rp50 juta/bulan sebenarnya hanya pemicu ‘amuk massa’ yang berujung chaos di sejumlah daerah dan kota besar, seperti di DKI Jakarta, Makassar, Surabaya, Bandung, Semarang dan lainnya.

 

Aksi massa di Kota Makassar berujung pembakaran gedung DPRD setempat, ikut menyisakan pilu tatkala 4 orang dinyatakan tewas.

 

Penyebab amuk maesa dalam aksi hingga menelan korban jiwa dan kerusakan di mana-mana adalah kesulitan ekonomi yang mendera rakyat.

 

Keputusan DPR-RI memberi tunjangan perumahan itu, memicu kemarahan rakyat yang sedang menderita. Terlebih respon sejumlah anggota DPR-RI yang berjoget seolah bersuka ria setelah mengetahui adanya tambahan tunjangan perumahan.

 

Bukan hanya prilaku konyol yang dipertontonkan kalangan DPR, tapi juga pola komunikasi punlik yang sangat buruk. Begitupun komunikasi sejumlah menteri yang kerap menyakiti rakyat. Mereka memposisikan diri bak raja yang bebas bertutur dan bersikap meski hati rakyat tersakiti. Mereka tak memahami makna rakyat berdaulat dalam negara demokrasi. Rakyat itu pemegang kekuasaan tertinggi, sehingga pemerintah tak memiliki kekuasaan absolut melainkan pengemban amanat rakyat.

 

Aksi massa yang diwarnai amuk, seolah menjadi cara massa untuk meluapkan kekecewaan atas kebijakan pemerintah yang lambat menjawab ‘urusan perut’ rakyat. Tak hanya soal kebijakan penguasa yang lambat, tapi juga terkesan memilih merangkul para benalu ketimbang rakyatnya yang sedang terjepit ditengah himpitan ekonomi.

 

Faktanya, seorang terpidana bernama Silfester Matutina tak kunjung dieksekusi malah diberi jabatan komisaris BUMN, begitupun tersangka kasus pidana penodaan agama Ade Armando pun diberi posisi terhormat sebagai komisaris BUMN. Belum lagi, Budi Arie Setiadi yang diduga terseret kasus judi online masih dipertahankan diposisi sebagai Menteri Koperasi, Erick Thohir yang dinilai publik telah membuat BUMN nyaris bangkrut di era Jokowi juga dipertahankan dijabatan Menteri BUMN, dan pemberian penghargaan Maha Putera Adipradana kepada mantan koruptor Burhanuddin Abdullah. Serta sejumlah orang yang diduga terlibat korupsi dan terlibat konspirasi melahirkan anak haram konstitusi sebagai pendamping pemimpin negeri, kini masih menjabat menteri.

Baca Juga :  Lily Wahid Politikus PKB Adik Kandung Gus Dur Telah Berpulang Ke Rahmatullah

 

Kasus korupsi di era Jokowi yang sudah terungkap jika ditotal telah merugikan negara hingga ribuan triliun rupiah dinilai publik menjadi penyebab utama hancurnya perekonomian negara. Kondisi inilah yang menyebabkan rakyat makin miskin dan menderita.

 

Dengan kesulitan anggaran negara akibat bobroknya rezim pendahulu, mungkinkah program unggulan pemerintahan Prabowo akan sukses?

 

Penegakan hukum yang tumpul ke atas dan tajam ke bawah bukan ilusi di negeri ini, faktanya kasus korupsi yang telah dilaporkan masyarakat diantaranya laporan Ubedillah Badrun ke KPK terkait dugaan praktek KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) keluarga mantan Presiden Jokowi tak kunjung diusut. Sementara, Bambang Tri Mulyono dan Sugi Nur Raharja atau Gus Nur telah menjadi korban kriminalisasi dengan mendekam dipenjara. Pasalnya, Bambang Tri dan Gus Nur dipenjara lantaran mempersoalkan keasilan ijazah Jokowi, namun Jokowi tak pernah menunjukkan ijazahnya di pengadilan apalagi ke hadapan publik. Hingga kini, kasus ijazah Jokowi terus bergulir dan dipersoalkan pubik melalui Roy Suryo, Rismon Sianipar dan dr Tifa. Lagi-lagi, ketiganya dan sejumlah orang termasuk mantan Ketua KPK, Abraham Samad terancam jadi tersangka karena mempersoalkan ijazah Jokowi.

 

Semoga pemimpin negeri ini segera menyadari tumpukan masalah yang menjadi penyebab utama murkanya rakyat melalui aksi unjuk rasa. Pemimpin sejati akan memilih merangkul rakyatnya ketimbang menjaga keharmonisan dengan para benalu perusak negeri.

Wallahualam bissawab.

(Tulisan ini disari dari berbagai sumber)

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Blunder Politik Gibran Buah Konspirasi Ketum Partai

Dhio Justice Law

15 Okt 2026

NasionalPos. com – Jakarta — Pengamat kebijakan publik Chazali H. Situmorang (CHS) menilai desakan pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka harus diarahkan kepada para ketua umum partai politik, bukan semata-mata kepada fraksi-fraksi di DPR RI. Menurutnya, para ketua umum memiliki pengaruh besar dalam menentukan sikap politik partai sehingga harus bertanggung jawab atas keputusan maupun sikap …

Di Momentum Hari Musium Nasional, H. Waspada SAg MM Wakil Ketua KPAD Kabupaten Bogor, Himbau Musium Bisa Jadi Ajang Edukasi Anak

dito

13 Okt 2026

NasionalPos.com, Bogor- Pada setiap tanggal 12 Oktober, di peringati sebagai peringatan Hari Musium kemarin, oleh karena itu, terkait dengan hal tersebut, kepada wartawan, H. Waspada MK, S.Ag, MM Wakil Ketua KPAD Kabupaten Bogor dan Dosen PG PAUD UNUSIA Jakarta., Selasa, 13/10/2026 di Bogor, ia mengatakan bahwa tentu musium sangat bermanfaat dan sangat penting bagi anak …

Makan Anggaran Rp1,4 Miliar, Proyek Jalan di Pesisir Barat Malah Diduga Caplok Lahan Mantan Bupati

Taufik Hidayat

12 Okt 2026

Pesisir Barat — Pembangunan proyek jalan menuju rumah sakit di Kabupaten Pesisir Barat yang menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2026 senilai Rp1,4 miliar tengah menjadi sorotan publik. Proyek tersebut diduga dibangun di atas lahan pribadi milik mantan Bupati Pesisir Barat, H. Agus Istiqlal, tanpa izin. Protes Langsung di Lokasi Proyek Pemilik lahan, H. …

Pernikahan RINI ANGGRAENI dan AZHAR DZULFIQAR di BANDUNG Berlangsung Megah, Karangan Bunga Tokoh Publik Curi Perhatian

- Banyuwangi

11 Okt 2026

BANDUNG, NASIONALPOS.COM — Suasana penuh kebahagiaan dan kemeriahan menyelimuti pernikahan Rini Anggraeni, S.Tr.Kes., dan Azhar Dzulfiqar, S.T., yang berlangsung pada Minggu (11/10/2026) di Maison Grande, Bandung, Jawa Barat. Perhelatan istimewa ini menjadi momentum bersejarah bagi kedua mempelai untuk memulai perjalanan baru dalam membangun rumah tangga. Pernikahan tersebut berlangsung dengan nuansa elegan, memadukan kesakralan prosesi dengan …

Dugaan Penarikan Kendaraan oleh Debt Collector di Banyuwangi, WOM Finance Diminta Buka Dasar Hukumnya

- Banyuwangi

11 Okt 2026

BANYUWANGI, NASIONALPOS. COM – Penarikan satu unit mobil Toyota Avanza tahun 2009 bernomor polisi DK 1156 IS di wilayah Desa Kedayunan, Kecamatan Kabat, Banyuwangi, tepatnya di depan Masjid Arohman, menuai keberatan dari pemilik kendaraan, (RR). Mobil yang disebut dibeli melalui pembiayaan WOM Finance tersebut diduga telah ditarik paksa oleh pihak ketiga yang disebut sebagai debt …

Karhula TNBBS Pesisir BARAT Disorot : 2 Hektare Terbakar, Kapolres Turun Langsung – Pembakar Hutan Jangan Berharap LOLOS!!!

- Banyuwangi

08 Okt 2026

PESISIR BARAT, NASIONALPOS.COM  — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Pekon Rata Agung, Kecamatan Lemong, Kabupaten Pesisir Barat, menjadi peringatan keras bahwa ancaman terhadap kawasan hutan tidak boleh dianggap sepele. Sekitar ±2 hektare kawasan hutan terdampak kebakaran, sementara dampak lingkungan masih dalam pendataan. Peristiwa tersebut diketahui pada Rabu, …

x
x