Home » Nasional » Surat Terbuka untuk Gubernur Melki Laka Lena: Jangan Biarkan Pena Mereka Patah Lagi

Surat Terbuka untuk Gubernur Melki Laka Lena: Jangan Biarkan Pena Mereka Patah Lagi

dito 07 Feb 2026 131

Di tulis oleh: R. Priya Husada Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia 

Bung Melki yang baik,

Apa kabar, Bung? Saya harap surat ini sampai ke tanganmu di tengah hiruk-pikuk tugas negara yang tak ada habisnya. Menyimak rekaman pidato dan pernyataanmu yang emosional soal tragedi di Ngada—soal anak kita YBR yang harus pulang ke haribaan Tuhan hanya karena urusan buku dan pena—saya merasa seperti sedang mendengar kembali suara lantangmu di forum-forum PMKRI dulu. Ada kemarahan yang suci, ada kegelisahan seorang kader yang dididik untuk peka terhadap kaum pauperum, mereka yang terpinggirkan.

Sebagai sesama anak kandung pergerakan yang pernah bernaung di “rumah” yang sama, saya tahu persis apa yang Bung rasakan. Kita dulu diajarkan tentang Christianitas dan Fraternitas, tapi yang paling menghunjam adalah Populus. Rakyat.

Dan hari ini, saat Bung memegang tongkat kepemimpinan tertinggi di NTT, rakyat itu mati justru karena kemiskinan di depan mata kita semua. Isi pidato itu bukan sekadar rangkaian kata; itu adalah pengakuan dosa kolektif kita sebagai sebuah sistem.

Bung Melki, mari kita bicara jujur. NTT ini bukan sekadar peta koordinat, ia adalah rajutan modal sosial yang luar biasa kuat. Kita punya Gereja yang jemaatnya sampai ke pelosok gunung, kita punya struktur adat yang disegani, dan kita punya perangkat desa yang secara teori adalah ujung tombak.

Namun, mengapa YBR bisa luput? Mengapa sistem peringatan dini kita “mati suri” saat seorang anak bergulat dengan rasa malu karena tak mampu membeli alat tulis?

Baca Juga :  Kapolda NTB Resmikan Barak Siaga Wicaksana Laghawa Polres Lombok Tengah

Masalahnya bukan sekadar anggaran, Bung. Masalahnya adalah budaya malu yang salah arah. Di kampung-kampung kita, orang lebih malu jika kemiskinannya diketahui publik ketimbang kelaparan dalam diam. Perangkat desa pun terkadang lebih malu melaporkan warganya yang menderita karena takut dianggap tidak becus bekerja oleh atasan. Inilah tembok mentalitas yang harus kita hancurkan bersama.

Melalui surat terbuka ini, saya ingin menawarkan sebuah gagasan sistemik yang barangkali bisa Bung eksekusi dengan gaya kepemimpinanmu yang taktis. Kita perlu memulai sebuah gerakan semesta: Gerakan Sapa-Peduli-Bantu.

Bayangkan jika setiap hari Minggu di Gereja atau hari Jumat di Masjid, para pemuka agama tidak hanya bicara soal teologi, tapi bicara soal “siapa tetanggamu yang anaknya hari ini tidak sekolah karena tidak punya buku?”. Kita harus mengaktivasi kapital sosial keagamaan ini menjadi “intelijen kemanusiaan”.

Mereka adalah yang paling tahu kondisi dapur jemaatnya. Jika Gereja, Masjid, NGO, dan pemerintah bersatu dalam satu frekuensi komunikasi, tak akan ada lagi anak yang “hilang” dari radar.

Bung, gunakan wewenangmu untuk menginstruksikan setiap Kepala Desa agar tidak lagi menutup-nutupi data kemiskinan ekstrem demi citra.

Kita harus membalik logikanya: Kepala Desa yang hebat bukanlah yang desanya terlihat tanpa orang miskin di atas kertas, tapi yang paling cepat melaporkan warga yang butuh bantuan.

Kita butuh pesan komunikasi yang masif di radio-radio lokal dan pasar-pasar dengan narasi baru: “Melaporkan kesulitan bukanlah aib, tapi cara kita saling menjaga sebagai sesama saudara di Bumi Flobamora.”

Gerakan Sapa-Peduli-Bantu ini harus menjadi napas baru birokrasi NTT:

Baca Juga :  DEN KSBSI Serukan Aksi Massa Serentak Tolak UU TAPERA

Sapa: Perangkat RT/RW wajib menyapa setiap pintu secara berkala. Bukan untuk urusan administratif, tapi untuk memastikan nyawa manusia terjaga.

Peduli: Mencatat kebutuhan-kebutuhan “kecil” yang mematikan, seperti buku, pena, atau seragam, yang seringkali luput dari program bantuan besar pemerintah.

Bantu: Menciptakan kanal respons cepat. Jika birokrasi di tingkat lokal macet—seperti yang Bung sesalkan dalam pidato kemarin soal lambatnya respons pejabat di Ngada—maka rakyat harus punya akses langsung untuk mengadu.

Bung Melki, dalam pidato tersebut Bung menyebutkan dengan jujur bahwa “Lembaga sosial kita gagal, pemerintah gagal, agama gagal, sistem budaya gagal.” Itu adalah kritik diri yang sangat berani dari seorang pemimpin.

Namun, sebagai sahabat yang pernah ditempa di kawah candradimuka yang sama, saya tahu Bung tidak hanya ingin mengutuk kegelapan. Bung ingin menyalakan lilin.

Mari kita jadikan tragedi YBR ini sebagai garis start untuk merombak total cara kita bertetangga dan bernegara di NTT. Jangan biarkan birokrasi membunuh empati. Jadikan “Sapa-Peduli-Bantu” sebagai kontrak sosial baru antara Gubernur dan rakyatnya. Kita tidak butuh laporan yang indah di meja kerja; kita butuh kepastian bahwa tidak ada lagi anak NTT yang menangis karena sebatang pena.

Kita pernah berjanji untuk menjadi suara bagi mereka yang tak bersuara. Sekarang, Bung adalah suara itu. Gunakanlah dengan lantang untuk membongkar sekat-sekat budaya malu yang mematikan itu.

Semangat berjuang, Bung. NTT menaruh harapan besar pada ketulusan hatimu.

Hormat saya,

Sahabat seperhimpunan dan seperjuanganmu dalam kemanusiaan.

 

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
PAL Jaya: Penjaga Lingkungan Jakarta yang Selama Ini Kurang Dikenal”

dito

17 Jul 2026

NasionalPos.com, Jakarta- “Peradaban sebuah kota tidak hanya diukur dari gedung pencakar langit atau jalan bebas hambatnya, tetapi dari bagaimana kota itu mengelola air limbahnya.”   Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa sanitasi adalah fondasi peradaban modern. Sayangnya, sanitasi justru merupakan sektor yang paling jarang mendapat perhatian publik.   Selama ini masyarakat lebih mengenal Perumda PAL Jaya …

Dana CSR Diduga Mengalir Puluhan Juta Tiap Tahun, Jalan Plantaran Tetap Hancur; AWI Dpc Banyuwangi Soroti Transparansi Pengelolaan Dana

- Banyuwangi

16 Jul 2026

Banyuwangi, Nasionalpos.com – Kerusakan Jalan Plantaran, Dusun Plantaran, Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, kembali memicu sorotan tajam. Di tengah kondisi jalan yang bertahun-tahun dikeluhkan warga karena menghambat aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga pelayanan kesehatan, justru beredar dokumen yang menunjukkan adanya dana kontribusi atau Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan yang diperkirakan mencapai sekitar Rp40 juta setiap tahun. …

Didukung Berbagai Stakeholder, PMKRI Cabang Jakarta Pusat Optimistis Siap Menjadi Tuan Rumah Kongres XXXV dan MPA XXXIV Tahun 2028

dito

15 Jul 2026

Nasionalpos.com, Jakarta- Keseriusan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Jakarta Pusat Sanctus Robertus Bellarminus untuk menghadirkan Kongres PMKRI kembali di Jakarta semakin nyata.   Setelah membangun komunikasi dan menjalin audiensi dengan berbagai pemangku kepentingan di Jakarta, PMKRI Cabang Jakarta Pusat menyatakan optimisme dan kesiapannya apabila dipercaya oleh forum nasional PMKRI sebagai penyelenggara Kongres XXXV …

Poros Rawamangun Desak PT Moya Indonesia Bertanggung jawab Atas Kecelakaan kerja Karyawannya, & Minta Said Iqbal Tidak Cari Panggung

dito

15 Jul 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Beberapa hari lalu terjadi kecelakaan kerja yang mengakibatkan tiga pekerja meninggal dunia. Ketiga korban merupakan pekerja subkontraktor PT Moya Indonesia yang sedang mengerjakan proyek pembangunan jaringan distribusi pipa air bersih di dalam gorong-gorong di kawasan Jalan Pintu III TMII, Cipayung, Jakarta Timur, pada Kamis 9 Juli 2026 pekan lalu. Insiden tersebut bermula ketika …

Wakil Wali Kota Terima Audiensi Pihak BPJS Ketenagakerjaan Kota Lubuk Linggau

Andi Ledi Lubuk Linggau

15 Jul 2026

Nasionalpos.com/LUBUK LINGGAU-Wakil Wali Kota Lubuk Linggau, H Rustam Effendi menerima audiensi sekaligus membahas rencana pembuatan video sosialisasi bersama BPJS Ketenagakerjaan di Ruang Kerja Wakil Wali Kota Lubuk Linggau, Rabu (15/7/2026). Pertemuan tersebut membahas upaya memperkuat perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan guna mendukung peningkatan kesejahteraan para pekerja, khususnya di Kota Lubuk Linggau. Dalam diskusi, disepakati rencana pembuatan …

Pasal 33 UUD 1945: Pertaruhan Politik Terbesar Prabowo

Dhio Justice Law

13 Jul 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia – LAKI) NasionalPos.com, Jakarta – Kemenangan politik jauh lebih mudah diraih daripada kemenangan sejarah. Presiden Prabowo Subianto telah memenangkan kontestasi politik. Namun, untuk memenangkan sejarah, ia harus membuktikan satu hal yang jauh lebih sulit: menjadikan Pasal 33 UUD 1945 sebagai kenyataan, bukan sekadar retorika konstitusi. Di sinilah letak …

x
x