Home » Nasional » Surat Terbuka untuk Gubernur Melki Laka Lena: Jangan Biarkan Pena Mereka Patah Lagi

Surat Terbuka untuk Gubernur Melki Laka Lena: Jangan Biarkan Pena Mereka Patah Lagi

dito 07 Feb 2026 168

Di tulis oleh: R. Priya Husada Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia 

Bung Melki yang baik,

Apa kabar, Bung? Saya harap surat ini sampai ke tanganmu di tengah hiruk-pikuk tugas negara yang tak ada habisnya. Menyimak rekaman pidato dan pernyataanmu yang emosional soal tragedi di Ngada—soal anak kita YBR yang harus pulang ke haribaan Tuhan hanya karena urusan buku dan pena—saya merasa seperti sedang mendengar kembali suara lantangmu di forum-forum PMKRI dulu. Ada kemarahan yang suci, ada kegelisahan seorang kader yang dididik untuk peka terhadap kaum pauperum, mereka yang terpinggirkan.

Sebagai sesama anak kandung pergerakan yang pernah bernaung di “rumah” yang sama, saya tahu persis apa yang Bung rasakan. Kita dulu diajarkan tentang Christianitas dan Fraternitas, tapi yang paling menghunjam adalah Populus. Rakyat.

Dan hari ini, saat Bung memegang tongkat kepemimpinan tertinggi di NTT, rakyat itu mati justru karena kemiskinan di depan mata kita semua. Isi pidato itu bukan sekadar rangkaian kata; itu adalah pengakuan dosa kolektif kita sebagai sebuah sistem.

Bung Melki, mari kita bicara jujur. NTT ini bukan sekadar peta koordinat, ia adalah rajutan modal sosial yang luar biasa kuat. Kita punya Gereja yang jemaatnya sampai ke pelosok gunung, kita punya struktur adat yang disegani, dan kita punya perangkat desa yang secara teori adalah ujung tombak.

Namun, mengapa YBR bisa luput? Mengapa sistem peringatan dini kita “mati suri” saat seorang anak bergulat dengan rasa malu karena tak mampu membeli alat tulis?

Baca Juga :  ORARI Pusat Gelar Kegiatan Sosial Donor Darah Untuk Berbagi, Sehat dan Bermanfaat

Masalahnya bukan sekadar anggaran, Bung. Masalahnya adalah budaya malu yang salah arah. Di kampung-kampung kita, orang lebih malu jika kemiskinannya diketahui publik ketimbang kelaparan dalam diam. Perangkat desa pun terkadang lebih malu melaporkan warganya yang menderita karena takut dianggap tidak becus bekerja oleh atasan. Inilah tembok mentalitas yang harus kita hancurkan bersama.

Melalui surat terbuka ini, saya ingin menawarkan sebuah gagasan sistemik yang barangkali bisa Bung eksekusi dengan gaya kepemimpinanmu yang taktis. Kita perlu memulai sebuah gerakan semesta: Gerakan Sapa-Peduli-Bantu.

Bayangkan jika setiap hari Minggu di Gereja atau hari Jumat di Masjid, para pemuka agama tidak hanya bicara soal teologi, tapi bicara soal “siapa tetanggamu yang anaknya hari ini tidak sekolah karena tidak punya buku?”. Kita harus mengaktivasi kapital sosial keagamaan ini menjadi “intelijen kemanusiaan”.

Mereka adalah yang paling tahu kondisi dapur jemaatnya. Jika Gereja, Masjid, NGO, dan pemerintah bersatu dalam satu frekuensi komunikasi, tak akan ada lagi anak yang “hilang” dari radar.

Bung, gunakan wewenangmu untuk menginstruksikan setiap Kepala Desa agar tidak lagi menutup-nutupi data kemiskinan ekstrem demi citra.

Kita harus membalik logikanya: Kepala Desa yang hebat bukanlah yang desanya terlihat tanpa orang miskin di atas kertas, tapi yang paling cepat melaporkan warga yang butuh bantuan.

Kita butuh pesan komunikasi yang masif di radio-radio lokal dan pasar-pasar dengan narasi baru: “Melaporkan kesulitan bukanlah aib, tapi cara kita saling menjaga sebagai sesama saudara di Bumi Flobamora.”

Gerakan Sapa-Peduli-Bantu ini harus menjadi napas baru birokrasi NTT:

Baca Juga :  Menakar Kesejahteraan Buruh: Memperjuangkan Kesejahteraan Buruh,BUKAN diantara Kepentingan Karyawan pimpinan

Sapa: Perangkat RT/RW wajib menyapa setiap pintu secara berkala. Bukan untuk urusan administratif, tapi untuk memastikan nyawa manusia terjaga.

Peduli: Mencatat kebutuhan-kebutuhan “kecil” yang mematikan, seperti buku, pena, atau seragam, yang seringkali luput dari program bantuan besar pemerintah.

Bantu: Menciptakan kanal respons cepat. Jika birokrasi di tingkat lokal macet—seperti yang Bung sesalkan dalam pidato kemarin soal lambatnya respons pejabat di Ngada—maka rakyat harus punya akses langsung untuk mengadu.

Bung Melki, dalam pidato tersebut Bung menyebutkan dengan jujur bahwa “Lembaga sosial kita gagal, pemerintah gagal, agama gagal, sistem budaya gagal.” Itu adalah kritik diri yang sangat berani dari seorang pemimpin.

Namun, sebagai sahabat yang pernah ditempa di kawah candradimuka yang sama, saya tahu Bung tidak hanya ingin mengutuk kegelapan. Bung ingin menyalakan lilin.

Mari kita jadikan tragedi YBR ini sebagai garis start untuk merombak total cara kita bertetangga dan bernegara di NTT. Jangan biarkan birokrasi membunuh empati. Jadikan “Sapa-Peduli-Bantu” sebagai kontrak sosial baru antara Gubernur dan rakyatnya. Kita tidak butuh laporan yang indah di meja kerja; kita butuh kepastian bahwa tidak ada lagi anak NTT yang menangis karena sebatang pena.

Kita pernah berjanji untuk menjadi suara bagi mereka yang tak bersuara. Sekarang, Bung adalah suara itu. Gunakanlah dengan lantang untuk membongkar sekat-sekat budaya malu yang mematikan itu.

Semangat berjuang, Bung. NTT menaruh harapan besar pada ketulusan hatimu.

Hormat saya,

Sahabat seperhimpunan dan seperjuanganmu dalam kemanusiaan.

 

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Hari Sumpah Pemuda ke 98 Harapkan Pemuda Berjiwa Patriotik, Gigih, Berempati dan Berakhlak Mulya.

dito

28 Okt 2026

NasionalPos.com, Jakarta- 98 tahun yang lalu para pemuda Indonesia mengikrarkan janji yang menyatukan perbedaan, menguatkan perjuangan, dan melahirkan tekad untuk berdiri sebagai satu bangsa.   Semangat tersebut dinilai harus tetap hidup dan mewujud dalam pembangunan manusia, begitu pula yang di sampaikan Oleh Dr KH Yusuf Aman MA Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Propinsi DKI …

Poros Rawamangun Ingatkan Kadis Pendidikan DKI Jakarta, Jangan Main-Main Soal Dana Revitalisasi SDN 05 Baru PS Rebo”

dito

28 Okt 2026

NasionalPos.com, Jakarta-  Revitalisasi gedung SDN Baru 05 Pagi di Pasar Rebo, Jakarta Timur, yang kondisi gedungnya sangat memprihatinkan itu, ditargetkan oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di mulai September 2026 ini, setelah proses perencanaannya berjalan sejak 2023, Akan tetapi hingga saat ini, revitalisasi yang sudah di siapkan dananya Rp 101 Milyar tersebut, belumlah berjalan pembangunan …

Tutup Kejuaraan Taekwondo Piala Dansat Siber TNI: Ini Pesan Ketum PPM-LVRI Berto

dito

27 Okt 2026

NasionalPos.com, Binjai- Tim Taekwondo Tiger Sumatra Binjai meraih juara umum Kejuaraan Taekwondo Piala Dansat Siber TNI yang ditutup Ketua Umum Pemuda Panca Marga (PPM), Berto Izak Deko, di Gedung Olahraga (GOR) Kota Binjai, Jalan Jambi, Minggu (25 Oktober 2026).   Kejuaraan perdana yang digelar Tiger Sumatra Binjai itu diikuti atlet, pelatih, dan penonton dengan antusias. …

Poros Rawamangun Sorot Kualitas Kinerja Inspektorat Pemprov DKI Jakarta Terhadap Dua Proyek Pengadaan di DKI Jakarta

dito

27 Okt 2026

NasionalPos. com, Jakarta-  Tekad Pemprov DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono, untuk membersihkan di kalangan Pemprov DKI Jakarta dari tindak pidana korupsi, ternyata masih terganjal dengan adanya temuan dua kasus yang hingga saat ini belum ada penetapan tersangka nya, yakni Dua proyek pengadaan di lingkungan Pemprov DKI Jakarta yang di temukan oleh BPK.   …

Momentum Peringatan Hari Santri Nasional, Jadikan Santri Berani dan punya Kemampuan Hadapi Tantangan Zaman

dito

21 Okt 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Gagasan awal mengenai Hari Santri diusulkan oleh kalangan pesantren, yang kemudian diperkuat usulannya oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), yang kemudian di resmikan oleh Presiden Jokowi, bahwa tanggal 22 Oktober di tetapkan sebagai Hari Santri Nasional  melalui Keppres Nomor 22 Tahun 2015 guna mengenang jasa para ulama dan santri.   Terkait dengan situasi …

Raport Merah Penegakan Hukum selama 2 Tahun Pemerintah Prabowo-Gibran”

dito

21 Okt 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Selama dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, masyarakat Indonesia merasakan mengenai upaya penegakan hukum, maka terkait dengan hal itu Ralian Jawalsen, S.H seorang praktisi hukum. kepada wartawan, Rabu, 21/10/2026, di Jakarta.   Ia mengatakan bahwa Pemerintahan Presiden Prabowo- Gibran selama dua tahun ini telah terjadi kemunduran dalam penegakan hukum.   …

x
x