Home » Hukum » Dugaan Malpraktek kedokteran Di RS Fatmawati: Tuntutan Keadilan Dan Ganti Rugi

Dugaan Malpraktek kedokteran Di RS Fatmawati: Tuntutan Keadilan Dan Ganti Rugi

Iyut Ermawati - Karawang 28 Feb 2025 1.213

Nasionalpos.com ,Jakarta — Sebuah kasus dugaan malpraktik kembali mencuat ke publik, menyoroti sistem kesehatan dan pertanggungjawaban medis di Indonesia. Kasus ini berawal dari seorang pasien remaja bernama SLC, anak dari Bapak Darwis Lubis (D.L), yang menjalani operasi tulang belakang (scoliosis) di RS Fatmawati pada tahun 2014. Namun, alih-alih mendapatkan kesembuhan, ia justru mengalami cacat permanen yang menghancurkan masa depannya.

Sebelum operasi, SLC masih dapat beraktivitas seperti anak-anak seusianya: bermain bola, berlari, dan melakukan gerakan tubuh dengan normal. Meskipun mengalami kelainan skoliosis, kondisinya tidak menghambat kehidupan sehari-hari. Namun, setelah menjalani operasi pemasangan pen oleh dr. L.G dan Prof. Dr. S.S di RS Fatmawati, kondisinya justru memburuk.

Setelah operasi yang berlangsung selama hampir tujuh jam, pasien mengalami kesulitan pulih. Pembengkakan di area operasi tidak kunjung membaik, dan rasa sakit yang luar biasa terus dirasakan.

Pasca pemeriksaan lanjutan di beberapa rumah sakit lainnya, ditemukan bahwa pemasangan pen pada tulang belakang mengalami kelalaian: salah satu ikatan pen terlepas, menyebabkan kondisi skoliosis semakin parah. Bukannya membaik, tulang belakangnya justru semakin bengkok, menyebabkan penderitaan yang mendalam.

Pihak keluarga korban telah berupaya mencari keadilan dengan melaporkan kasus ini ke berbagai instansi terkait.

Namun, mereka justru menemui jalan buntu karena dugaan adanya upaya saling menutup-nutupi antara pihak rumah sakit dan dokter yang bersangkutan.

Pihak RS Fatmawati tidak memberikan tanggapan yang memadai, dan mediasi yang dilakukan pun tidak menghasilkan solusi konkret.

Dalam sebuah pertemuan yang difasilitasi oleh Wakil MK DKI Jakarta, pihak rumah sakit sempat menawarkan SLC untuk bekerja sebagai tenaga honorer sambil menjalani perawatan.

Baca Juga :  Melakukan Pungli Dikawasan Objek Wisata Carocok Painan, Dua Orang Pelaku Diamankan Sat Reskrim Polres Pessel

Namun, tawaran tersebut dianggap tidak memadai oleh keluarga, mengingat kondisi korban yang tidak lagi mampu bergerak normal.

Bapak D.L akhirnya menggandeng pengacara untuk mengajukan gugatan terhadap dr. L.G, Prof. Dr. S.S, serta pihak RS Fatmawati. Gugatan ini menuntut ganti rugi atas kelalaian medis yang menyebabkan penderitaan berat dan cacat permanen pada anaknya.

Dalam konsultasi dengan Prof. Dr. Mahfud MD saat menjabat sebagai Menkopolhukam, disarankan agar kasus ini diproses melalui jalur hukum perdata untuk mendapatkan kompensasi yang layak.

Hingga kini, upaya hukum masih menemui hambatan. Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia sempat melakukan investigasi, yang berujung pada penutupan ruang operasi di RS Fatmawati dan pengalihannya menjadi ruang senam.

Namun, tindakan ini tidak menyentuh akar permasalahan terkait tanggung jawab dokter dan rumah sakit atas malpraktik yang terjadi.

Tiga ahli dari luar negeri yang meninjau kasus ini menyimpulkan bahwa prosedur operasi yang dilakukan tidak sesuai dengan standar internasional. Ada indikasi bahwa pemasangan pen lebih didorong oleh motif bisnis daripada pertimbangan medis yang tepat.

Pasien yang berasal dari keluarga kurang mampu sering kali hanya mengandalkan BPJS, namun dalam kasus ini, keluarga korban terpaksa membayar puluhan juta rupiah secara tunai demi menjalani operasi.

Pasien seharusnya mendapatkan perawatan pascaoperasi yang lebih optimal, termasuk pemakaian gips untuk menekan skoliosis pascaoperasi.

Namun, informasi dari seorang teknisi medis yang biasa membuat gips menyebutkan bahwa ia tidak pernah mendapatkan order tersebut, menunjukkan adanya kelalaian serius dalam perawatan pascaoperasi.

Baca Juga :  Wamenkraf Apresiasi USS Yard Sale Tingkatkan Lapangan Kerja Generasi Muda

Kasus ini telah diangkat dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Komisi IX DPR RI, namun hingga kini tidak ada itikad baik dari pihak RS Fatmawati maupun dokter terkait untuk menyelesaikan masalah ini.

Hak korban untuk mendapatkan keadilan terus terhambat, memperlihatkan lemahnya sistem hukum dalam menindak kasus dugaan malpraktik di Indonesia.

Dengan semakin mandeknya proses hukum, keluarga korban kini meminta perhatian langsung dari Presiden H. Prabowo Subianto untuk menindaklanjuti kasus ini dan memastikan keadilan ditegakkan.

Mereka juga berencana mengajukan laporan resmi ke Komnas HAM RI untuk menyoroti bagaimana hak pasien sering kali diabaikan dalam sistem kesehatan nasional.

Kasus dugaan malpraktik ini menjadi cerminan bagaimana lemahnya mekanisme pengawasan dan pertanggungjawaban dalam dunia medis di Indonesia.

Jika tidak ditangani dengan serius, kejadian serupa bisa terus berulang dan memakan lebih banyak korban. Oleh karena itu, masyarakat, pemerintah, dan lembaga hukum harus bersatu untuk menuntut keadilan serta memperkuat regulasi dalam dunia kedokteran guna mencegah kasus serupa terjadi di masa depan.

Hingga berita ini diterbitkan, Kami masih menunggu perkembangan selanjutnya. Bersama Tim Gabungan dari Advokasi dan Investigasi DPP. GAKORPAN & LBH PERS Presisi GSN RPG. 08 BRP FPN, Dr Bernard, Hendry J P, Dian Wibowo dan Rusman Pinem akan terus mengawal kasus mal praktek yang terjadi di RS Fatmawati.

**Redaksi SINARPOS.com Jakarta : Tim Dr. Bernard Burdju Siagian, SH

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Resmi Dibuka ; Warga Kini Bisa Lapor Langsung ke Kapolda Lampung Lewat Hotline Ini

Taufik Hidayat

22 Okt 2026

Lampung – Kepolisian Daerah (Polda) Lampung membuka layanan pengaduan masyarakat melalui hotline “Lapor Pak Kapolda Lampung”. Layanan tersebut menjadi saluran bagi masyarakat untuk menyampaikan pengaduan, informasi, maupun aspirasi secara langsung. Informasi mengenai layanan tersebut disampaikan melalui materi publikasi Polda Lampung menampilkan Kapolda Lampung Brigjen Pol Yustan Alpiani. Dalam publikasi itu, masyarakat dapat menghubungi hotline pengaduan …

Perkuat Kualitas Penegakan Hukum, Polres Pesisir Barat Jalani Supervisi Semester II Ditreskrimum Polda Lampung

Taufik Hidayat

21 Okt 2026

Pesisir Barat – Polres Pesisir Barat melaksanakan kegiatan Supervisi Semester II TA 2026 dari Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Lampung pada hari Rabu (21/10/2026) pukul 09.00 WIB s.d. selesai, bertempat di Aula Polres Pesisir Barat. Kegiatan supervisi tersebut diikuti oleh seluruh personel Reskrim dari Polres Pesisir Barat dan Polres Lampung Barat yang dipusatkan di …

Raport Merah Penegakan Hukum selama 2 Tahun Pemerintah Prabowo-Gibran”

dito

21 Okt 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Selama dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, masyarakat Indonesia merasakan mengenai upaya penegakan hukum, maka terkait dengan hal itu Ralian Jawalsen, S.H seorang praktisi hukum. kepada wartawan, Rabu, 21/10/2026, di Jakarta.   Ia mengatakan bahwa Pemerintahan Presiden Prabowo- Gibran selama dua tahun ini telah terjadi kemunduran dalam penegakan hukum.   …

Beri Motivasi dan Edukasi, Waka Polres Pesisir Barat Pimpin Upacara Bendera di MAN 1 Pesisir Tengah

Taufik Hidayat

19 Okt 2026

Pesisir Barat – Dalam rangka pembinaan generasi muda dan pencegahan kenakalan remaja, Polres Pesisir Barat melaksanakan kegiatan menjadi Pembina Upacara di MAN 1 Pesisir Tengah, Kabupaten Pesisir Barat, pada hari Senin (19/10/2026) Pukul 07.30 WIB. Kegiatan upacara bendera tersebut dipimpin langsung oleh Waka Polres Pesisir Barat *Kompol Sugeng Sumanto, S.E., M.H.* sebagai Pembina Upacara, didampingi …

Ahli Waris Tegaskan Lahan Bersejarah Jl. Ince Nurdin dan Jejak Aset Lainnya, Sah Miliknya, Berdasarkan Data Eigendom Verponding yang Diakui UUPA

dito

19 Okt 2026

NasionalPos.com, Makassar- Sengketa lahan di Jalan Ince Nurdin No. 37, Kelurahan Baru, Kota Makassar yang mencuat ke publik menjadi titik awal penelusuran lebih luas atas aset tanah peninggalan Pangeran Cornelis Demunic. Demikian disampaikan oleh Kuasa hukum ahli waris, A. Darwin R. Ranreng, kepada wartawan, Senin, 19/10/2026 di Makassar   “Hari Senin ini, kami tegaskan bahwa …

PUTUSAN MK: PRAJURIT TNI PIDANA UMUM WAJIB DIADILI DI PENGADILAN UMUM,Langkah Bersejarah Menuju Kesetaraan di Hadapan Hukum ,

dito

17 Okt 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Putusan Mahkamah Konstitusi yang mewajibkan revisi UndangUndang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer menjadi sorotan penting dalam peta reformasi hukum nasional.   Putusan yang menyatakan bahwa prajurit TNI yang melakukan tindak pidana umum harus diadili di peradilan umum ini dinilai sebagai tonggak konstitusional yang menegaskan prinsip negara hukum: tidak ada satu pun …

x
x