Home » Headline » Pilkada di Negeri Para Raja

Pilkada di Negeri Para Raja

Dhio Justice Law 22 Nov 2024 163

Oleh : Yusuf Hasani

Anak Adat Kesultanan Ternate

 

PADA masa lampau di suatu negeri dipimpin oleh raja- raja, disebut negeri para raja. Riwayat kehidupan masyarakat yang aman damai. Kekayaan alam berupa rempah-rempah menjadi incaran berbagai pihak di tempat jauh sebagai bahan dagangan dibelahan dunia. Kehidupan masyarakat dapat dikatakan bersahabat dengan alam. Kekayaannya  dikelola secara baik oleh penguasa dan mengutungkan para petani, pedagang serta  penguasa. Begitupun sosok sang raja yang amanah, wajahnya selalu dibasuh air wudu, taat pada adat istiadat utamanya ajaran agama Islam. Aura wajah yang teduh – penuh wibawa menghadirkan kesetiaan yang tulus, terlihat dari ketaatan para hulu balang  ketika raja bertitah. Betapa indahnya kehidupan masyarakat di negeri para raja saat itu. Suasana nan indah segera berakhir pada waktu penjajah mulai menguasai perdagangan dan menaklukkan para raja dengan tipu muslihatnya.

Kaum pribumi menyadari kedaulatan negerinya sudah terganggu oleh ulah penjajah. Gendang perang ditabuh pertanda perlawanan pribumi terhadap penjajah. Perang fisik berlangsung dalam waktu yang lama, hanya bermodalkan peralatan seadanya, (parang, salawaku dan tombak), korban-korban berjatuhan. Pekik takbir berkumandang diberbagai tempat demi memperkuat keyakinan para pejuang. Bila takdir menghendaki lain, maka yang sahid berhak menyandang gelar syuhada. Keyakinan inilah yang menjadi dasar siprit juang para pendahulu. Para raja bersatu melakukan perlawanan hebat hingga berhasil mengusir penjajah keluar dari negerinya

Era kemerdekaan pun tiba, rakyat terbebas dari pengaruh penjajah, para raja bergabung dengan negara baru. Penguasa  berganti, diberi nama pimpinan nasional, para raja ditempatkan sebagai kepala adat, meskipun hak-hak masyarakat adat diakui sebagaimana tertulis dalam konstitusi negara baru yang besar dan luas itu. Pasang surut politik negara baru, diperbincangkan khalayak ramai, karena rezim penguasa  cenderung berperilaku diktator dan korup hingga datang era reformasi sebagai wujud perubahan politik mendasar dari negara. Pengisian jabatan public diberlakukan pemilihan langsung agar rakyat menemukan kedaulatannya. Itu berarti rakyat berhak memilih sendiri calon  pemimpin di daerah.

Baca Juga :  Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III Perkuat Seluruh Pos Keamanan serta Rest Area di PT Freeport Indonesia

Menurut peraturan calon atau pasangan calon diajukan oleh partai politik dan/atau gabungan partai politik (Koalisi). Panitia pemilihan disebut Komisi Pemilihan Umum (KPU), terdapat pula lembaga pengawas pemilu namanya Badan Pengawas Pemilu. Dua lembaga yang disebut terakhir adalah lembaga penyelenggara pemilu sesuai undang-undang pemilu kepala daerah dari megara yang belakangan disebut -sebut oleh netizen dengan istilah negara Konoha. KPU kemudian menetapkan empat pasangan calon yang berlaga dalam pilkada, akan tetapi  berselang beberapa hari, karena, satu dengan lain hal, seorang calon berhalangan tetap. Partai koalisi segera melakukan rapat mendadak menetapkan  isteri dari calon yang berhalangan tetap sebagai calon pengganti. Entah apa alasan, tuan raja memberi dukungan kepada calon wanita. Seorang tetua adat mengatakan pemimpin itu ibarat imam dalam shalat berjamaah, Artinya pemimpin adalah laki-laki,  kaum wanita tidak diperkenankan menjadi imam atau pemimpin.  Ketentuan adat ini  sesuai  ajaran Al Quran surat An Nisah ayat 34 “bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita” ujar tetua adat menjelaskan. Publik muslim  dihebohkan dengan dukungan raja kepada calon non muslim. Mengetahui sikap raja, Mufti kerajaan mengeluarkan fatwa bahwa kerajaan Islam wajib hukumnya melaksanakan perintah agama yakni; memilih pemimpin seiman. pilihlah pemimpin yang benar, pilihanmu kelak dipertanggungjawabkan dihadapan al Khalik.

Para pembantu raja atau fufato adat  terbelah, ada yang mendukung titah raja, banyak pula yang menolak. Seseorang yang memiliki jabatan dalam kerajaan mengatakan ”titah raja lebih tinggi dari fatwa Mufti “. Masyarakat dibuat terheran -heran dengan keadaan yang tak biasa ini. Seorang sahabat berbisik kepada tetangganya perbanyaklah istigfar, ketika mendengar ucapan fufato adat. Seolah olah raja tidak boleh salah meskipun keliru, maka berlaku adagium “ Raja memiliki dua pasal,” yakni; Pasal 1  Raja tak pernah salah dan Pasal 2 Apabila raja salah, maka kembali ke pasal 1.

Raja dianggap menyesatkan hulu balang demi kepentingan sesaat. Para ulama dan public muslim murka dengan cara raja berpolitik tidak sehat akal  di negeri mayoritas muslim. Tatanan adat menjadi kacau balau, akibat sikap dan perilaku politik raja yang tidak sejalan dengan syari’at Islam dan adat istiadat. Hasil investigasi pewarta Majalah Lima Waktu “bocor tipis” disinyalir uang  besar – banyak sudah beredar  ke berbagai pihak. Menjelang pemilihan tampaknya raja menyadari, namun kesadaran setengah hati ini dicurigai mengharapkan legitimasi (pengakuan), karena sejak awal empat Kie Madihutu sebagai pimpinan lembaga pemilihan enggan mengakui keabsahan raja. Seorang lelaki tua tertunduk lesu dibawa pohon dekat rumah tua yang tak lagi bercahaya seperti sedia kala, berucap lirih “ Ya Allah, bahla  apa lagi yang akan terjadi kemudian hari dinegeri kami ini ” Kami memang berdosa kepada para leluhur, karena tak mampu menjaga pesan-pesan dan nasihat  pendahulu“ Ampuni lah hamba Ya Allah, hamba hanyalah rakyat biasa yang tak punya kuasa.”

Baca Juga :  Lapas Kelas llA Jember Menjalani Program Monitoring Dan Pembekalan Khusus Oleh Ditbinmas Polda Jawa Timur

Kondisi ini  mengingatkan rakyat di negeri para raja tentang peristiwa seorang permaisuri yang memaksa raja dan fufato adat mengakui dua anak kembar yang bukan anaknya, untuk dijadikan raja pengganti. Reaksi protes keluarga raja dan rakyat memaksa permaisuri di bui selama  satu tahun enam bulan. Suasana adat belum juga tertata secara baik, kini datang lagi prahara. Dalam situasi demikian, dari pangaji terdengar  nasihat kecil  kalifa Dula kepada anaknya yang beranjak dewasa; “Jika adalah yang harus kau lakukan, ialah menyampaikan kebenaran, jika adalah yang tidak bisa dijual bilikan, dialah yang bernama  keyakinan, jika  adalah yang harus kau tumbangkan, dialah segala pohon-pohon kezaliman, jika adalah orang yang harus  kau agungkan, dia adalah Rasulullah. Jika ada kesempatan memilih mati, dijalan sahid, dijalan Ilahi. Kita adalah pemilik sah negeri ini, tidak ada lagi pilihan lain, kita harus berjalan terus, karena berhenti atau mundur berarti hancur. Tidak ada lagi pilihan lain, kita harus berjalan terus.” Apabila terdapat kesamaan nama dan kejadian, itu adalah faktor kebetulan. Sesungguhnya tulisan ini  hanyalah dialog imajiner. (***)

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Di Momentum Hari Musium Nasional, H. Waspada SAg MM Wakil Ketua KPAD Kabupaten Bogor, Himbau Musium Bisa Jadi Ajang Edukasi Anak

dito

13 Okt 2026

NasionalPos.com, Bogor- Pada setiap tanggal 12 Oktober, di peringati sebagai peringatan Hari Musium kemarin, oleh karena itu, terkait dengan hal tersebut, kepada wartawan, H. Waspada MK, S.Ag, MM Wakil Ketua KPAD Kabupaten Bogor dan Dosen PG PAUD UNUSIA Jakarta., Selasa, 13/10/2026 di Bogor, ia mengatakan bahwa tentu musium sangat bermanfaat dan sangat penting bagi anak …

Makan Anggaran Rp1,4 Miliar, Proyek Jalan di Pesisir Barat Malah Diduga Caplok Lahan Mantan Bupati

Taufik Hidayat

12 Okt 2026

Pesisir Barat — Pembangunan proyek jalan menuju rumah sakit di Kabupaten Pesisir Barat yang menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2026 senilai Rp1,4 miliar tengah menjadi sorotan publik. Proyek tersebut diduga dibangun di atas lahan pribadi milik mantan Bupati Pesisir Barat, H. Agus Istiqlal, tanpa izin. Protes Langsung di Lokasi Proyek Pemilik lahan, H. …

Pernikahan RINI ANGGRAENI dan AZHAR DZULFIQAR di BANDUNG Berlangsung Megah, Karangan Bunga Tokoh Publik Curi Perhatian

- Banyuwangi

11 Okt 2026

BANDUNG, NASIONALPOS.COM — Suasana penuh kebahagiaan dan kemeriahan menyelimuti pernikahan Rini Anggraeni, S.Tr.Kes., dan Azhar Dzulfiqar, S.T., yang berlangsung pada Minggu (11/10/2026) di Maison Grande, Bandung, Jawa Barat. Perhelatan istimewa ini menjadi momentum bersejarah bagi kedua mempelai untuk memulai perjalanan baru dalam membangun rumah tangga. Pernikahan tersebut berlangsung dengan nuansa elegan, memadukan kesakralan prosesi dengan …

Dugaan Penarikan Kendaraan oleh Debt Collector di Banyuwangi, WOM Finance Diminta Buka Dasar Hukumnya

- Banyuwangi

11 Okt 2026

BANYUWANGI, NASIONALPOS. COM – Penarikan satu unit mobil Toyota Avanza tahun 2009 bernomor polisi DK 1156 IS di wilayah Desa Kedayunan, Kecamatan Kabat, Banyuwangi, tepatnya di depan Masjid Arohman, menuai keberatan dari pemilik kendaraan, (RR). Mobil yang disebut dibeli melalui pembiayaan WOM Finance tersebut diduga telah ditarik paksa oleh pihak ketiga yang disebut sebagai debt …

Karhula TNBBS Pesisir BARAT Disorot : 2 Hektare Terbakar, Kapolres Turun Langsung – Pembakar Hutan Jangan Berharap LOLOS!!!

- Banyuwangi

08 Okt 2026

PESISIR BARAT, NASIONALPOS.COM  — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Pekon Rata Agung, Kecamatan Lemong, Kabupaten Pesisir Barat, menjadi peringatan keras bahwa ancaman terhadap kawasan hutan tidak boleh dianggap sepele. Sekitar ±2 hektare kawasan hutan terdampak kebakaran, sementara dampak lingkungan masih dalam pendataan. Peristiwa tersebut diketahui pada Rabu, …

3 Hektare TNBBS Terbakar, Kapolres Pesisir Barat Turun Langsung: Jangan Main Api, Pembakar Hutan Bakal Diburu!!!

- Banyuwangi

07 Okt 2026

PESISIR BARAT, NASIONALPOS.COM  — Kebakaran yang melanda kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) di wilayah Pekon Rata Agung, Kecamatan Lemong, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, menjadi perhatian serius aparat penegak hukum. Sedikitnya ±3 hektare kawasan hutan dilaporkan terdampak, sehingga pengawasan dan pencegahan kebakaran susulan terus diperketat. Kapolres Pesisir Barat AKBP Rinto Haivan Simbolon, S.E., S.I.K., …

x
x