Home » Headline » Prof Sudaryanto Eksil 65; Berharap Pemerintah Baru Indonesia Perkuat Harmonisasi Indonesia-Rusia,Sambut Indonesia Emas 2045

Prof Sudaryanto Eksil 65; Berharap Pemerintah Baru Indonesia Perkuat Harmonisasi Indonesia-Rusia,Sambut Indonesia Emas 2045

dito 24 Jul 2024 176

NasionalPos.com, Jakarta-   Yanto Priyono adalah pria Jawa kelahiran kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar Provinsi Jawa Timur, berkat prestasi dan kecerdasannya, ia mendapatkan kesempatan untuk belajar  ke Rusia pada tahun 60-an. Dia yang merupakan lulusan sebuah akademi bidang perkoperasian adalah satu dari ratusan mahasiswa yang dikirim oleh pemerintah Soekarno untuk belajar ilmu teknik ke Uni Soviet,

Saat itu rasa kebanggaan dan kegembiraan pada dirinya, tiba-tiba berubah menjadi kecemasan dan kegalauan ketika kesentimenan anti komunis makin menguat di Indonesia, hubungan kedua negara berdampak kurang baik.

Para mahasiswa yang belajar di Uni Soviet tidak bisa pulang ke kampung halaman mereka karena itu akan terlalu riskan. Berbeda dengan teman-teman senasibnya yang pindah ke Belanda, namun dirinya memilih untuk menetap di Rusia, demikian disampaikan Prof Sudaryanto Eksil 1965 kepada NasionalPos.com, Rabu, 24/7/2024 via telpon langsung dari Moskow.

“Situasi saat itu, sangat kacau dan membingungkan, pasport kami di cabut oleh pemerintah Orde Baru, sehingga kami tidak bisa pulang ke Indonesia, padahal saat itu, saya sudah tingkat terakhir menyelesaikan study di sini, mas,” tutur Prof Sudaryanto.

Menurut Sudaryanto,  ketika itu, dirinya bersama teman-temannya dipaksa untuk mengakui pemerintah Soeharto dan juga di paksa untuk ikut mengutuk Bung Karno, namun dirinya menolak paksaan itu, yang kemudian sikap penolakannya itu berakibat dirinya dilarang untuk pulang ke tanah air, disertai dengan pencabutan paspor maupun seluruh biaya kehidupan selama di Rusia yang selama ini ditanggung oleh Pemerintah Indonesia, kondisi itu membuat dirinya sempat mengalami kegalauan,

Bahkan seperti anak ayam kehilangan induknya, tidak tau harus berbuat apa dan bagaimana? namun beruntunglah situasi tersebut tidak terlalu lama dialaminya, sebab ternyata pemerintah Uni Sovyet  berbaik hati memberikan ijin kepada dirinya untuk tetap tinggal di Uni Sovyet, untuk melanjutkan study nya, bahkan dirinya mendapatkan berbagai fasilitas untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, bukan hanya itu, dirinya juga mendapatkan pekerjaan di instansi pemerintah Uni Sovyet, hingga dirinya bisa menikah dengan gadis Rusia, kemudian memiliki serta membesarkan putri semata wayangnya.

Baca Juga :  Relawan Gerakan Ganjar Sebut Bacawapres Prof Mahfud MD Magnet Raih Suara Rakyat Bagi Kemenangan Ganjar di Pilpres 2024

“Secara pribadi saya sangat berterima kasih dengan pemerintah Rusia, yang telah bersedia menerima dirinya untuk bertempat tinggal dan hidup di negeri ini hingga saat ini, akan tetapi rasa rindu untuk pulang ke Indonesia itu tidak pernah padam, dan setelah puluhan tahun menanti, di tahun 2000 keinginan untuk pulang ke Indonesia, baru bisa terlaksana, ini sesuatu yang sangat membahagiakan bagi saya.”tukas Prof Sudaryanto.

Lebih lanjut Prof Sudaryanto menuturkan, bahwa setelah dirinya di berikan kesempatan pulang ke tanah air, ketika tiba di tanah air, ada rasa haru bercampur terkejut, ternyata semua sudah berubah, tanah air yang sangat dia cintai, rindukan dan banggakan, kini sudah berubah lebih bagus dari ketika ia tinggalkan puluhan tahun silam, namun terlepas dari rasa kekagumannya terhadap situasi negeri yang ia cintai, terbersit rasa kesedihan mendalam, dan juga kecemasan mendalam,

Di karenakan semua yang di lihatnya hanyalah sebuah etalase belaka, semua perkembangan maupun perubahan yang terjadi di Indonesia, ternyata hanya semu belaka, dibalik itu semua, faktanya Indonesia bak seorang gadis cantik telah menjadi ajang perebutan, bahkan perampokan terselubung sumber daya alam oleh pihak asing, bukan hanya itu manusia Indonesia pun nampak terjajah budayanya melalui media massa, terjajah kecerdasannya melalui teknologi, oleh pihak asing beserta antek-anteknya yang tidak menghendaki Indonesia menjadi bangsa maju, berdaulat, adil dan Makmur.

“Ini yang membuat saya sedih, mas, mereka itu tidak ingin Indonesia menjadi bangsa yang berkembang maju, mereka justru menghendaki Indonesia tetap terbelakang, miskin dan tergantung pada mereka, cita-cita kemerdekaan Indonesia seakan dihilangkan dengan hadir pihak asing itu berkedok kerjasama maupun berkedok investasi yang menguntungkan mereka dan sangat merugikan Indonesia, itu fakta yang terjadi hari ini di negeri yang saya cintai, mas.”tandas Prof Sudaryanto.

Baca Juga :  Kawal Investasi Pabrik Baterai Senilai Rp135 Triliun, Bahlil Didukung DPR RI

Akan tetapi, lanjut Prof Sudaryanto, situasi itu tidak akan terjadi, jika Rusia melakukan kerjasama dengan Indonesia, maka Rusia yang memiliki teknologi canggih ini  bakal memberikan manfaat bagi kemajuan Indonesia, sebab prinsip kerjasama maupun investasi Rusia adalah kerjasama yang saling menguntungkan dan saling memberdayakan, begitu pula dalam hal berinvestasi, Pemerintah Rusia lebih mengedepankan saling menguntungkan dan saling bermanfaat, dengan demikian apabila Indonesia bekerjasama dengan Rusia di bidang teknologi, di bidang perdagangan dll, maka sangat bermanfaat bagi kemajuan Indonesia.

Tapi masalahnya apakah bisa terjadi hubungan bilateral Indonesia-Rusia yang saling menguntungkan tersebut, sebab banyak pihak yang tidak menghendaki itu terjadi, karena sudah ada 25.000 aturan yang dibuat oleh mereka yang tidak menghendaki terjadi harmonisasi hubungan bilateral Indonesia-Rusia, apalagi masalah investasi maupun perdagangan, mereka selalu menghalanginya, menghambat dan bahkan dengan berbagai cara agar tidak terjadi harmonisasi hubungan bilateral Indonesia-Rusia yang solid dan kokoh,  terutama di bidang perdagangan dan investasi.

Terkait dengan kondisi tersebut,  dirinya mengapresiasi terhadap kegiatan Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB) bersama Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Rusia (PPIR) dan Forum Peduli Literasi Masyarakat (FILEM) menyelenggarakan Webinar “Indonesia-Rusia: Mempererat Persahabatan di tengah Krisis Multidimensi” yang diselenggarakan melalui online pada Sabtu, 20 Juli 2024 lalu, sebagai ruang untuk mendiskusikan berbagai hal tentang hubungan Indonesia-Rusia sekaligus juga membahas langkah solusi dari permasalahan yang menjadi penghambat terbentuknya harmonisasi hubungan bilateral Indonesia-Rusia.

“Ya, saya sangat senang dengan acara tersebut, bisa saling berinteraksi, selain itu tentunya kami juga berharap kepada pemerintah baru Indonesia hasil pemilihan presiden 2024 ini, dapat membuat kebijakan perkuat harmonisasi hubungan bilateral Indonesia-Rusia di berbagai bidang, terutama bidang investasi dan perdagangan, untuk wujudkan Indonesia Emas 2045 mendatang .”pungkas Prof Sudaryanto.

 

 

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Momentum Peringatan Hari Santri Nasional, Jadikan Santri Berani dan punya Kemampuan Hadapi Tantangan Zaman

dito

21 Okt 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Gagasan awal mengenai Hari Santri diusulkan oleh kalangan pesantren, yang kemudian diperkuat usulannya oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), yang kemudian di resmikan oleh Presiden Jokowi, bahwa tanggal 22 Oktober di tetapkan sebagai Hari Santri Nasional  melalui Keppres Nomor 22 Tahun 2015 guna mengenang jasa para ulama dan santri.   Terkait dengan situasi …

Raport Merah Penegakan Hukum selama 2 Tahun Pemerintah Prabowo-Gibran”

dito

21 Okt 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Selama dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, masyarakat Indonesia merasakan mengenai upaya penegakan hukum, maka terkait dengan hal itu Ralian Jawalsen, S.H seorang praktisi hukum. kepada wartawan, Rabu, 21/10/2026, di Jakarta.   Ia mengatakan bahwa Pemerintahan Presiden Prabowo- Gibran selama dua tahun ini telah terjadi kemunduran dalam penegakan hukum.   …

Kantor Hukum Layangkan Pemberitahuan Aksi, Kepastian Hukum di Polresta Banyuwangi Jadi Perhatian

- Banyuwangi

20 Okt 2026

BANYUWANGI, NASIONALIS. COM – Gelombang penyampaian aspirasi masyarakat di Kabupaten Banyuwangi diperkirakan bakal menjadi sorotan. Kantor Hukum Rifki Pria Hartawan Usman, S.H. & Rekan secara resmi menyampaikan pemberitahuan aksi damai yang dijadwalkan berlangsung pada Senin, 26 Oktober 2026, di depan Kantor Polresta Banyuwangi. Dalam surat pemberitahuan tertanggal 19 Oktober 2026 yang ditujukan kepada Kapolresta Banyuwangi, …

Transisi Energi Berkeadilan Sosial di Indonesia, Kebutuhan Mendesak Agar Diterapkan Secara Kolaboratif

dito

19 Okt 2026

NasionalPos.com, Jakarta-  Transisi energi menjadi isu global yang mendesak karena meningkatnya kesadaran terhadap dampak negatif perubahan iklim.   Beberapa negara telah mempraktikkan transisi ke energi baru dan terbarukan (EBT) dengan baik, seperti Swedia, Jerman dan Selandia Baru, demikian di ungkapkan oleh narasumber tunggal: Dr Natalis Situmorang pada Webinar bertajuk Bedah Buku Transisi Energi di Indonesia, Sabtu, …

Dugaan Penggelapan hingga Dokumen Tanah Perusahaan, Empat Laporan di Banyuwangi Jadi Perhatian

- Banyuwangi

19 Okt 2026

Banyuwangi, Nasionalis.com – Penanganan empat laporan polisi di Polresta Banyuwangi menjadi perhatian tim kuasa hukum yang mendampingi pelapor berinisial DPS dan IBP. Mereka meminta kejelasan mengenai perkembangan penanganan perkara yang mencakup dugaan tindak pidana terkait urusan keluarga, keuangan, dokumen hak atas tanah perusahaan, hingga penerimaan dana yang dipersoalkan. Sebagai tindak lanjut, tim kuasa hukum menyatakan …

Ahli Waris Tegaskan Lahan Bersejarah Jl. Ince Nurdin dan Jejak Aset Lainnya, Sah Miliknya, Berdasarkan Data Eigendom Verponding yang Diakui UUPA

dito

19 Okt 2026

NasionalPos.com, Makassar- Sengketa lahan di Jalan Ince Nurdin No. 37, Kelurahan Baru, Kota Makassar yang mencuat ke publik menjadi titik awal penelusuran lebih luas atas aset tanah peninggalan Pangeran Cornelis Demunic. Demikian disampaikan oleh Kuasa hukum ahli waris, A. Darwin R. Ranreng, kepada wartawan, Senin, 19/10/2026 di Makassar   “Hari Senin ini, kami tegaskan bahwa …

x
x