- Top NewsWali Kota Memimpin Rapat Evaluasi Pembatasan Volume Pembelian Solar Bersubsidi, Siapkan Pengaturan Jam Pengisian
- Top NewsStaf Ahli I Buka Grand Final Pemilihan Duta Lalu Lintas Tingkat Kota Lubuk Linggau 2026
- Top NewsDugaan Korupsi Proyek RS Khusus Paru Senilai Rp.15 Meliar.Ketua DPW PWDPI Dki Jakarta, Desak KPK Usut Tuntas
- daerahPRJ 2026 Tak Berpihak ke Warga Jakarta, Poros Rawamangun Desak Pemprov DKJ Evaluasi PRJ 2026
- HeadlinePPM – LVRI Gandeng Pemerintah Turki Jalin Kerjasama Bidang Pendidikan, Kebudayaan dan Dunia Usaha

Sebuah Analisa: Misteri Tragedi 1965 Dari Asumsi Melahirkan suatu Gerakan ???
NasionalPos.com, Jakarta- Peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965 sampai saat ini, masih menyimpan banyak misteri yang belum terungkap. Salah satunya tentang Jenderal AH Nasution lolos dari pembunuhan & penculikan pasukan G30S yang disinyalir kuat berakibat pada perubahan skenario untuk mengubah imbangan kekuatan dan atau reposisi jabatan di internal TNI-AD (ketika itu), demikian diungkap Setyoko Pengamat Sejarah Independen saat dihubungi wartawan, Rabu, 1/2/2023 di Jakarta.
“Informasi yang saya memperoleh menyebutkan bahwa Saat itu, Pada malam hari (ba’da Maghrib) 30 September 1965 lalu, ada pertemuan segitiga DN Aidit, Syam K dan Mayjen Pranoto R. di kediaman Syam K. Jl. Salemba Tengah, Jak-Pus. Dalam pertemuan tersebut, disepakati adanya penunjukan Mayjen Pranoto R. sebagai Caretaker Menpangad, “ungkap Setyoko.
Rupanya hasil pertemuan tersebut, lanjut Setyoko, didengar yang kemudian diasumsikan oleh Mayjen Soeharto sebagai inkonsistensi Presiden Sukarno, terhadap skenario awal yang sempat dirancang dan sudah disepakati bersama menunjuk Mayjen Soeharto akan menggantikan posisi Letjen A. Yani sebagai Menpangad, sedangkan Mayjend Pranoto R. sebagai Menhan/KSAB, menggantikan posisi Jenderal AH Nasution,
Sementara itu, realitasnya dalam 14 hari ke depan, pasca G-30-S 1965, sejak 3 Oktober 1965 Mayjen Soeharto menjadi Menpangad definitif merangkap Pangkopkamtib, situasi tersebut dapat dimaknai bahwa Mayjen Soeharto marah besar dan protes keras pada Presiden Sukarno karena telah mengangkat Mayjen Pranoto R. sebagai Caretaker Menpangad, kebetulan memang ada faktor penguat bagi Mayjen Soeharto untuk mendesakkan ambisinya selain menagih hutang janji Presiden Sukarno.
“Yang sungguh mengherankan, adalah hal-ikhwal tersebut di atas tidak menjadi bahan riset/penelitian dari para sejarahwan dan atau Ilmuwan Politik Indonesia”tukas Setyoko.
Selain fakta tersebut, imbuh Setyoko, juga terdapat fakta yang didapat dari pengakuan Kolonel A Latif, yang menyebutkan bahwa isu Dewan Jenderal ini sebenarnya sudah lama beredar di kalangan perwira muda. Bahkan Latief mengungkapkan kepada Brigjen Supardjo Panglima Komando Tempur II dalam Komando Mandala Siaga atau Kolaga yang mengaku punya bukti tentang isu Dewan Jenderal diasumsikan bakal melakukan kudeta pada 5 Oktober 1965,
Untuk mengantisipasi asumsi itu, dari informasi yang diperolehnya, Setyoko mengungkapkan, bahwa kemudian dibuatlah operasi penangkapan para jenderal ini, selanjutnya disebut dengan Operasi G30S, Namun, apa yang terjadi di lapangan jauh dari apa yang direncanakan. Para jenderal ditembak mati yang mana harusnya dibawa hidup-hidup menghadap Soekarno,
Hal itu semakin dibuktikan, pada peristiwa penangkapan Kolonel A Latif, pada tanggal 10 Oktober 1965 ditemukan sepucuk surat di sakunya yang ditujukan/dialamatkan kepada Mayjen Pranoto Reksosamudro, adapun inti isi surat Kolonel A. Latief itu permohonan perlindungan yang dialamatkan kepada Mayjen Pranoto Reksosamudro.
“Banyak fakta lain yang sudah saatnya dibuka dengan sejujur-jujurnya tentang peristiwa tersebut, terutama di kalangan militer saat menjelang, saat terjadi dan pasca tragedy 1965 tersebut”ucap Setyoko.
Setyoko pun menjelaskan bahwa dari informasi yang didapatnya menyebutkan bahwa ketika itu Langkah-langkah antisipasi serta konsolidasi Pangkostrad Mayjen Soeharto jauh sebelum dan jelang G-30-S 1965 serta pasca G-30-S 1965.
Ada dua fakta intelijen yang sangat signifikan, lanjut Setyoko, yaitu
- Sebelum jauh terjadinya peristiwa tragedy berdarah 1965, terdapat fakta bahwa Pada akhir Januari 1965 Pangkostrad Mayjen Soeharto panggil pulang Kol. Yoga Sugama dari penugasan diplomatik di Yugoslavia — di mana sesudah Kol. Yoga Sugama tiba di Jakarta segera dilantik oleh Pangkostrad Mayjen Soeharto sebagai Asintel Kostrad — sedangkan Letkol Ali Moertopo sebagai Waasintel Kostrad.
- Bahwa pada 28 September 1965 (3 hari sebelum Peristiwa G-30-S 1965) Pangkostrad Mayjen Soeharto menginstruksikan Asisten Intelijen Kostrad Kol. Yoga Sugama agar menemui Asisten Intelijen TNI-AD Mayjen Siswondo Parman, penjajakan Kol. Yoga Sugama itu hasilnya sangat ‘mencengangkan’ bahwa Mayjen Siswondo Parman selaku Asintel Menpangad nampaknya tak tahu bahwa dalam 2 atau 3 hari ke depan Kelompok G30S akan melakukan Gerakan penjemputan /penculikan yang tergabung dalam SUAD.
- Pengetahuan dan atau pemahaman Mayjen Siswondo Parman jelas mewakili pemahaman dan atau pengetahuan Menpangad Letjen Achmad Yani. Nampaknya, Mayjen Soeharto melakukan analisa antisipasi, dengan bersandar pada referensi tiga dokumen intelijen yang sempat beredar di masyarakat (Dokumen 18 September 1963, Dokumen tertulis Djakarta, 23 Desember 1963 yang sempat beredar saat rapat besar di Istana Bogor pada 12 Desember 1964 & Dokumen Gilchrist yang beredar pada 15 Mei 1965). Hingga tanggal 15 Februari 1966 (tiga minggu-an sebelum keluarnya SP 11 Maret 1966) AS/CIA belum dapat memastikan siapa suksesor Presiden Sukarno, apakah Jenderal AH Nasution atau Letjen Soeharto ?
- Situasi jelang keluarnya SP 11 Maret 1966, ABRI siap bergerak dengan kekuatan 22 Batalyon (dari empat matra), sikap antisipatif dari ABRI dipicu oleh tindakan Presiden Sukarno sendiri yang berniat segera akan mencopot Pangkopkamtib Letjen Soeharto — yang juga merangkap sebagai Menpangad. Rapat tertutup conditioning jelang keluarnya SP 11 Maret 1966 digelar pada 8 – 9 Maret 1966 di MBAD dengan melibatkan sejumlah politisi sipil.
“Nah, informasi yang saya dapat ini tentunya diharapkan adanya upaya menyingkap misteri Tragedi 1965 silam, yang merupakan suatu asumsi yang melahirkan aksi, yang mencatatkan diri sebagai peristiwa kejahatan HAM yang sudah saatnya diselesaikan dan jangan diwariskan dari generasi ke generasi, saya sebagai generasi muda, mengharapkan kejujuran dari berbagai pihak untuk berani mengungkapkan kebenaran dengan jujur atas apa terjadi pada sejarah kelam tragedy 1965 silam tersebut”pungkas Setyoko. (*dit)
dito
15 Jun 2026
NasionalPos.com, Jakarta- Jakarta Fair 2026 atau Pekan Raya Jakarta sudah di buka oleh Gubernur Pramono Anung pada tgl 12 Juni 2026 merupakan Event yang sudah dilaksanakan sejak tahun 1968 silam, dan untuk tahun 2026 ini, merupakan pelaksanaannya ke 57 kalinya. Adapun untuk tahun ini, harga tiket masuk ajang pameran tahunan ini dibanderol mulai dari …
dito
14 Jun 2026
NasionalPos.com, Jakarta- Pimpinan Pusat Pemuda Panca Marga (PP PPM – LVRI) menggandeng pemerintah Turki dalam rangka menjalin kerjasama di bidang Pendidikan dan kebudayaan antar kedua negara sebagai bagian dari upaya PPM – LVRI menjawab peluang dan kebutuhan dalam masyarakat. Jalinan kerjasama tersebut ditandai dengan pertemuan silaturahmi yang dihadiri oleh Ketua Umum PP PPM – …
dito
12 Jun 2026
NasionalPos.com, Jakarta- Di tengah semakin semarak nya situasi menjelang penyelenggaraan Muktamar NU yang rencananya di laksanakan pada tahun 2026 ini, Tersiar info, mengenai para kandidat calon Ketum PBNU, salah satunya, dikabarkan Gus Imin ketua umum PKB akan maju di muktamar NU, demikian di sampaikan Damuri Fikri pengamat politik kepada wartawan, Jumat, 12/6/2026 di Jakarta. …
Dhio Justice Law
12 Jun 2026
Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia-LAKI) NasionalPos.com, Jakarta – Indonesia saat ini, seorang politikus tidak harus terlihat negarawan untuk menjadi populer. Cukup viral. Fenomena lagu “Mas Bahlil Ganteng” memperlihatkan bagaimana politik perlahan bergeser dari arena gagasan menuju arena hiburan digital. Yang bekerja bukan lagi kedalaman visi, melainkan kekuatan algoritma. Bukan seberapa kuat argumentasi seorang …
Dhio Justice Law
11 Jun 2026
Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia – LAKI) NasionalPos.com, Jakarta – Program makan bergizi gratis (MBG) awalnya dijual sebagai wajah belas kasih negara. Sebuah janji tentang kepedulian terhadap rakyat kecil, tentang anak-anak yang harus diselamatkan dari lapar dan ketimpangan. Tetapi di tengah munculnya dugaan keterlibatan keluarga sejumlah pejabat tinggi dalam pusaran proyek MBG, publik …
Primadoni,SH
10 Jun 2026
Pesisir Selatan, Naainalpos.com – Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat, Dedie Tri Hariyadi, didampingi Ketua Ikatan Adhyaksa Dharmakarini Wilayah Sumatera Barat, Seftie Dedie, melaksanakan kunjungan kerja ke Kejaksaan Negeri Pesisir Selatan pada Rabu (10/6/2026). Dalam kunjungan tersebut, Kajati Sumbar turut didampingi Asisten Pembinaan, Asisten Tindak Pidana Khusus, Kepala Bagian Tata Usaha serta rombongan dari Kejaksaan Tinggi …
21 Nov 2024 1.961 views
NASIONALPOS.com II Banyuwangi, 20 November 2024 – Kasus penipuan dan pemerasan yang mengatasnamakan media Tribunnews kembali terjadi. Kali ini, pelaku yang diduga bernama Noviar Arya Putra, bersama dengan kontak bernama Tiara, berhasil menipu korban melalui aplikasi WhatsApp. Modus yang digunakan kali ini mengarah pada ancaman penyebaran video asusila yang direkam secara video call (VC). …
19 Sep 2025 1.556 views
Pesisir Selatan, Nasionalpos.com — Musyawarah Kabupaten (Muskab) Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), sukses digelar di Aula Kantor Camat Lengayang pada Kamis (18/9) siang. Acara tersebut dimulai pukul 13.30 WIB dan berlangsung hingga selesai dengan lancar dan penuh semangat kebersamaan antar sesama insan pencak silat. Muskab kali ini …
17 Mei 2022 1.403 views
NasionalPos.com, Depok– Diperoleh informasi yang menyebutkan bahwa Pangdivif 1 Kostrad yang baru, Brigjen TNI Bobby Rinal Makmun sebelumnya menjabat sebagai Kepala Staf Kodam (Kasdam) Jaya menggantikan Mayjen TNI Dedy Kusmayadi akan masuki masa Pensiun, secara resmi di lantik langsung oleh Panglima Kostrad (Pangkostrad) Letjen TNI Maruli Simanjuntak, M.Sc., dalam suatu upacara serah terima jabatan (Sertijab) …
28 Jul 2025 1.348 views
NasionalPos.com, Jakarta- Koperasi Merah Putih, sebuah gerakan ekonomi berbasis desa yang diinisiasi oleh pemerintah, mendapatkan sambutan positif dari masyarakat. Koperasi ini sungguh sungguh sebagai solusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama yang bertinggal di wilayah pedesaan, dan bahkan bisa mengurangi ketergantungan pada tengkulak serta rentenir, demikian di sampaikan Faris Galuh Pratama Koordinator Gerakan Masyarakat Berdikari …
23 Jul 2025 1.317 views
NasionaPos.com, Jakarta- Diperoleh informasi yang menyebutkan adanya indikasi oknum Kementerian Perhubungan RI yang di duga menciptakan suasana tidak kondusif untuk menyelesaikan permasalahan di kalangan ojol, Sinyalemen itu nampak ketika bakal di gelar nya FGD yang di laksanakan oleh Kementerian Perhubungan RI yang nampak nya mengundang para pihak yang selama ini berkaitan erat dengan permasalahan …
09 Jul 2025 1.283 views
NasionalPos.com, Jakarta- Totok Ketua Forum Mahasiswa Jakarta Peduli Perumahan Rakyat, kepada wartawan, ia mengatakan bahwa dirinya mendapatkan informasi telah terjadi kekerasan itu terjadi bukan hanya sekali, namun berulang kali dialami warga pemilik dan penghuni Rusunami Gading Nias Residence, Kelapa Gading (hanya sekitar 10% warga sesuai klaim dari Pengurus PPPSRS), dan nampaknya kejadian itu sudah berlangsung …
31 Okt 2024 1.174 views
Banyuwangi – Nasionalpos.com ll Gerah terhadap pemberitaan yang menyudutkan Muhammad Murni (35) warga Kelurahan Klatak Kecamatan Kalipuro Kab Banyuwangi dengan judul berita ” Aksi Koboy Warga Todong Menggunakan Senpi Ke Jukir” menggelar jumpa pers dengan beberapa awak media di Banyuwangi . Jumpa pers itu di geber , Kamis (31/10/2024) siang di warung Mbok Judges …



Comments are not available at the moment.