Home » Politik » Bakal Naik 9,68% Pagu Indikatif Kemendikbud-Ristek 2023 Di Sorot DPR RI

Bakal Naik 9,68% Pagu Indikatif Kemendikbud-Ristek 2023 Di Sorot DPR RI

dito 02 Jun 2022 156

Nasionalpos.com, Jakarta– Dalam raker dengan Mendikbudristek, Anggota Komisi X DPR RI Andreas Hugo Pareira menanggapi dan menyoroti pagu indikatif Kemendikbud-Ristek. Menurutnya, beberapa program yang sudah dijalankan kementerian memang dirasakan dampaknya seperti KIP dan lainnya. Namun, politis PDIP itu juga  menyoroti keberpihakan pemerintah terhadap sekolah atau kampus swasta. Dari postur anggaran tersebut, dia menilai belum ada dukungan pemerintah kepada lembaga pendidikan swasta hingga para pendidik dan tenaga kependidikan.

“Pendidikan tinggi jumlah mahasiswa swasta jauh lebih banyak dibandingkan negeri. Kita tidak mengatakan yang negeri diistimewakan, tapi jangan sampai menganaktirikan swasta. Sementara kita lihat dari anggaran ini belum ada politcal will kita,” terangnya.

Sementara itu, Anggota Komisi X lainnya, Ferdiansyah menekankan bahwa penambahan anggaran tidak sekadar menambah sasaran. Dia berharap ada dampak nyata yang dirasakan dari naiknya anggaran pendidikan. “Anggaran bukan sekadar tambah sasaran, tapi dampaknya juga harus kita ikuti,” tukasnya,

Sedangkan dalam paparannya, MENTERI Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek) Nadiem Makarim menyampaikan bahwa pagu indikatif Kemendikbud-Ristek pada tahun 2023 adalah Rp80.157.800.000.000,00 (80,157 triliun). Angka itu naik 9,68% dibandingkan dengan tahun 2022 sebesar Rp73.082.900.000.000,00 (73,082 triliun).

Baca Juga :  Update Data Corona (17/3/2022) Jumlah Pasien Positif 5.939.082 Orang dan Meninggal 153.212 Orang

“Pagu indikatif di tahun 2023 sebesar Rp80,15 triliun. Dari Rp80,15 triliun itu yang benar-benar bisa digunakan untuk anggaran program, itu rupiah murni nonoperasional sebesar Rp49,79 triliun,” ujar Nadiem dalam Raker bersama Komisi X DPR RI, Kamis (2/6) malam. Dijelaskannya, dari Rp49,79 triliun, yang sifatnya pendanaan wajib sebesar Rp44,53 triliun. “Ini adalah program-program on going seperti PIP, KIP, tunjangan guru, sertifikasi dan seterusnya,” ucap Nadiem

Sementara, lanjutnya, ruang fiskal untuk benar-benar meluncurkan program prioritas Merdeka Belajar hanya sekitar Rp5,26 triliun. “Jadi banyak sekali persepsi bahwa anggaran Kemendikbud-Ristek cukup besar tapi sebenarnya realita untuk program transformasi pendidikan yaitu Merdeka Belajar yang benar-benar bisa kita gunakan untuk program inovatif dan transformasi itu sekitar 5,26 T,” terangnya.

Baca Juga :  Israel Tahan Relawan Kemanusiaan untuk Gaza, Lawan!!! Tegas Mardani

Lebih lanjut, Nadiem mengatakan bahwa dari total kebutuhan anggaran di tahun 2023 sebenarnya mencapai Rp88,159 triliun. Sehingga terjadi defisit hingga Rp8 triliun yang terbagi dalam beberapa pos anggaran.

“Jadi pada saat ini kami mengalami defisit dibandingkan dengan pagu indikatif sekitar sedikit diatas Rp8 triliun. Ini adalah jumlah anggaran kita dibandingkan dengan target yang mau kita capai di tahun depan,” kata dia.

Ada sekitar Rp91 miliar defisit dalam program PAUD dan Wajib Belajar 12 Tahun, di program Pelestarian dan Pemajuan Bahasa dan Kebudayaan defisit sekitar Rp1,154 triliun. Di program Kualitas Pengajaran dan Pembelajaran selisih sekitar Rp2,94 triliun dan di Program Pendidikan Tinggi selisih kekurangan sekitar Rp997 miliar.

“Di program Pendidikan dan Pelatihan Vokasi ada sekitar Rp1,984 triliun dan untuk program Dukungan Manajemen kami ada selisih sekitar Rp833 miliar. Jadi ini mungkin data dari pagu indikatif dan kebutuhan berdasarkan usulan dan target kami,” pungkas Nadiem.(*dit)

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Akademisi: Implementasi Pasal 33 UUD 1945, Prabowo Sedang Diuji Melawan Oligarki dan Kapitalisme Global

Dhio Justice Law

09 Jul 2026

NasionalPos. com, Jakarta – Ekonom senior Fuad Bawazier menilai implementasi Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 hingga kini belum berjalan secara maksimal. Menurutnya, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sedang menghadapi ujian besar untuk membuktikan bahwa pembangunan ekonomi nasional benar-benar berpijak pada amanat konstitusi. Sebagai keynote speaker dalam Seminar “Konflik Geopolitik dan Ancaman Krisis …

Ketika Meritokrasi Dipertanyakan dalam Pengangkatan Komisaris BUMN

Dhio Justice Law

29 Jun 2026

NasionalPos.com, Jakarta – Pengangkatan komisaris pada perusahaan-perusahaan BUMN kembali menjadi sorotan publik setelah muncul nama-nama yang memiliki kedekatan dengan figur publik maupun pejabat negara. Misalnya, pengangkatan Barry Tamin sebagai Komisaris Independen di PT Sarinah yang diketahui merupakan adik ipar dari Raffi Ahmad, serta sorotan terhadap pengangkatan Mufli Budi Ananda, yang dikenal sebagai asisten pribadi Raffi …

‘Mas Bahlil Ganteng’ dan Transformasi Politik Golkar

Dhio Justice Law

12 Jun 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia-LAKI) NasionalPos.com, Jakarta – Indonesia saat ini, seorang politikus tidak harus terlihat negarawan untuk menjadi populer. Cukup viral. Fenomena lagu “Mas Bahlil Ganteng” memperlihatkan bagaimana politik perlahan bergeser dari arena gagasan menuju arena hiburan digital. Yang bekerja bukan lagi kedalaman visi, melainkan kekuatan algoritma. Bukan seberapa kuat argumentasi seorang …

MBG dan Pesta Babi Kekuasaan

Dhio Justice Law

11 Jun 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia – LAKI)  NasionalPos.com, Jakarta – Program makan bergizi gratis (MBG) awalnya dijual sebagai wajah belas kasih negara. Sebuah janji tentang kepedulian terhadap rakyat kecil, tentang anak-anak yang harus diselamatkan dari lapar dan ketimpangan. Tetapi di tengah munculnya dugaan keterlibatan keluarga sejumlah pejabat tinggi dalam pusaran proyek MBG, publik …

Sawah, Kandang dan Laut: Ancaman Nyata bagi Oligarki

Dhio Justice Law

02 Jun 2026

Oleh: Ridwan Umar (Sekjen Garda Bumiputera) NasionalPos.com, Jakarta – Indonesia terlalu lama diajarkan bahwa kekuasaan hanya lahir dari partai politik, parlemen, dan istana. Padahal dalam sejarah bangsa mana pun, kekuasaan sejati selalu berdiri di atas penguasaan ekonomi. Dan hari ini, ekonomi Indonesia terlalu banyak dikuasai segelintir elite. Oligarki tidak selalu tampil dengan wajah menakutkan. Kadang …

Marwah Daud: Saatnya Gerakan Ekonomi Rakyat Rontokkan Oligarki

Dhio Justice Law

01 Jun 2026

NasionalPos.com, Jakarta – Mantan asisten peneliti Unesco dan World Bank, Dr. Marwah Daud Ibrahim menyerukan Rakyat Indonesia untuk bangkit dan melawan oligarki melalui Gerakan Ekonomi Rakyat. Seruan itu dilontarkan Marwah Daud saat menjadi nara sumber Seminar Kebangsaan bertema Mengokohkan Pilar Kebangsaan dan Perdamaian Dunia Dalam Menghadapi Dinamika Konflik Geopolitik yang digelar dalam rangkaian Musyawarah KAHMI …

x
x