Home » Nasional » daerah » Budaya Betawi Tak Boleh Tergerus Zaman

Budaya Betawi Tak Boleh Tergerus Zaman

dito 21 Okt 2024 77

NasionalPos.com, Jakarta-  Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta Dina Masyusin meminta Pemprov mempertahankan Budaya Betawi. Hal itu seiring dengan Jakarta menuju kota global. Ia mengatakan, pelestarian Budaya Betawi sebagai upaya agar nilai-nilai budaya tak tergerus zaman.

“Mengingat Budaya Betawi harus dijaga nilai-nilai dan dilestarikan,” ujar Dina kepada wartawan, Senin, 21/10/2024 di gedung DPRD DKI Jakarta.

Ia juga mengusulkan kepada Dinas Kebudayaan DKI untuk menyediakan ruang-ruang berkonsep Betawi yang bisa dinikmati warga secara gratis.

Dengan demikian, ruang tersebut bisa menjadi wadah penyaluran kreativitas. Seperti di Setu Babakan.

“Meminta agar ada fasilitas budaya gratis, agar Budaya Betawi tejaga existensinya,” ungkap Dina.

Baca Juga :  MKMK Harus Dalami Kejahatan Terencana dan Terorganisir terkait Putusan Gibran

Selain itu, sambung dia, Dinas Kebudayaan berkoordinasi dengan Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) DKI untuk melestarikan Budaya Betawi.

Di antaranya, menggencarkan pagelaran bazar yang melibatkan pelaku UMKM. Di situlah, menampilkan produk-produk kuliner dan Budaya Betawi.

Sehingga berbagai jenis kuliner ala Betawi bisa diperkenalkan kepada masyarakat luas. Seperti kerak telor, bir pletok, asinan Betawi, dodol Betawi, dan gado-gado.

Kegiatan bazar juga akan memberikan ruang penampilan Kesenian Betawi. Seperti tarian, musik, dan teater khas Betawi seperti palang pintu, pencak silat, bodoran, gambang kromong, dan tarian tradisional lainnya.

“Memperkuat UMKM local, yaitu Budaya Betawi agar memperkuat ekonomi lokal di Jakarta,” kata Dina.

Baca Juga :  Firman Soebagyo Apresiasi Program Budidaya Ikan Melalui Bioflok Guna Optimalisasi Konsumsi

Selain itu, menurut Dina, Dinas Kebudayaan dengan menggandeng Dinas Pendidikan untuk menambah kegiatan ekstrakulikuler Budaya Betawi di sekolah.

Ekstrakulikuler bisa meliputi kesenian, olahraga, dan keterampilan lainnya. Seperti pencak silat, tari cokek, dan tari lenggang none.

Dengan cara itu, para siswa sekolah bisa mengenal dan merawat kekayaan budaya asli Jakarta. Termasuk membuka kesempatan siswa terlibat lang­sung dalam pengembangan kreativitas.

Ke depan, anak-anak penerus bangsa memiliki identitas lokal dan pembentukan karakter.

“Supaya generasi penerus tahu bahwa ada Budaya Betawi di Jakarta khususnya dengan cara menambahkan ekstrakulikuler Budaya Betawi,” pungkas Dina

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Dinas Perpustakaan Kota Bandung Gelar Gala Final Pemilihan Duta Baca 2026

Suryana Korwil Jabar

30 Apr 2026

Bandung, NasionalPos.com – Dinas Perpustakaan Kota Bandung menggelar Gala Final Pemilihan Duta Baca Kota Bandung 2026 dengan mengusung tema “Peran Strategis Duta Baca dalam Pengembangan Budaya Literasi di Lingkup Keluarga”. Kegiatan ini berlangsung di Aula Balairung Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung, Kamis (30/04/2026). Acara tersebut di hadiri oleh Wali Kota Bandung H. Muhammad Farhan …

Aktifitas Lapangan Padel Dianggap Mengganggu, Jalan Sutami Mengadu Ke Komisi I

Suryana Korwil Jabar

30 Apr 2026

Kota Bandung, NasionalPos.com – Komisi I DPRD Kota Bandung menerima dua audiensi dari perwakilan warga, di Ruang Rapat Komisi I DPRD Kota Bandung, Rabu, 29 April 2026. Penerimaan audiensi itu dipimpin Ketua Komisi I DPRD Kota Bandung, Radea Respati Paramudhita, dan dihadiri Anggota Komisi I DPRD Kota Bandung, Ahmad Rahmat Purnama, A.Md., Ir. H. Kurnia …

Negara di Era Perang Narasi; Polarisasi Agama: Retak yang Dipelihara (3 – End)

Dhio Justice Law

29 Apr 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia – LAKI) NasionalPos.com, Jakarta – Polarisasi tidak selalu terjadi dengan sendirinya. Sering kali, ia dibentuk—lalu dipelihara. Dalam lanskap politik kontemporer, konflik jarang lahir dari ruang hampa. Ia dirancang melalui narasi, diperkuat oleh repetisi, lalu dilegitimasi oleh emosi kolektif. Di titik inilah agama menjadi variabel yang paling sensitif sekaligus …

Lomba Baca Puisi Tingkat SD dan Talk show Sastra Di Gelar Jaker Kudus

dito

29 Apr 2026

NasionalPos.com, Kudus- Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER) Kabupaten Kudus menggelar diskusi/talkshow sastra bertajuk “Sastra Untuk Negeri” dalam rangka memperingati Bulan Puisi 2026, Sabtu (25/4/2026), di Sidji Coffee, Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus.   Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB ini mengangkat Tema Sastra (Puisi) Untuk Negeri Sub tema “Menemukan Makna Dalam Setiap Karya”   Serta …

Tragedi Little Aresha Yogyakarta, Catatan Penting Bagi Orang Tua, Masyarakat dan Pemerintah

dito

29 Apr 2026

Di tulis dan di sampaikan oleh Waspada,S. Ag, MM Dosen PG PAUD UNUSIA & Wakil Ketua KPAD Kabupaten Bogor. Tragedi memilukan yang dilakukan oleh pengelola Daycare dan pekerjanya seperti di Daycare Little Aresha Yogjakarta, sesungguhnya bukan yang pertama kali. Sebelumnya telah terjadi hal serupa dibeberapa daerah, akan tetapi hal tersebut tidak membuat jera oleh oknum pengelola …

Negara di Era Perang Narasi: Disinformasi: Senjata Tak Kasat Mata Yang Melumpuhkan (2)

Dhio Justice Law

28 Apr 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia – LAKI) NasionalPos.com, Jakarta – Perang modern tidak selalu dimulai dengan serangan fisik. Ia sering kali dimulai dari sesuatu yang tampak sepele: informasi yang dipelintir. Di era digital, peluru pertama bukanlah rudal—melainkan narasi. Dan yang ditembak bukan tubuh, tetapi persepsi. Disinformasi bekerja tanpa suara, tanpa jejak yang kasat …

x
x