Home » Headline » Indonesia Negara Berdaulat, KON Sampaikan Petisi dan Kecam Intervensi ILO

Indonesia Negara Berdaulat, KON Sampaikan Petisi dan Kecam Intervensi ILO

dito 09 Jun 2025 359

Nasionalpos.com, Bekasi-

Seperti diketahui, Indah Anggoro Putri, Dirjen PHI dan Jamsos Kemnaker RI memberikan suara mewakili Ketua Delegasi RI, Menteri Ketenagakerjaan Prof. Yassierli dan menyatakan bahwa Indonesia mendukung diterbitkannya Konvensi ILO (International Labor Organization) untuk Pekerja Platform Digital.

Menanggapi pernyataan tersebut, Ketua Umum Presidium Koalisi Ojol Nasional Andi Kristiyanto kepada wartawan, ia mengatakan bahwa Indonesia adalah negara merdeka, berdaulat, dan juga merupakan negara hukum, dengan demikian apapun pernyataan ILO mengenai nasib ojol bisa merupakan bentuk intervensi ILO kepada Indonesia sebagai negara yang sudah 79 tahun merdeka.

” ILO nggak ada urusan nya dengan nasib ojol di Indonesia, karena ojol di Indonesia bukan pekerja, dan bukan buruh, jadi kami tolak intervensi ILO terhadap ojol di Indonesia,” ungkap Andi Kristiyanto Ketua Presidium Koalisi Ojol Nasional kepada wartawan, Senin, 9 Juni 2025 di Gedung PGRI Tambun, Bekasi.

Menurut Andi, pihaknya bersama rekan rekan Ojol di seluruh Indonesia, selain menyatakan menolak intervensi ILO terhadap nasib ojol di Indonesia, pihaknya juga menolak adanya klaim dari mereka yang mengatasnamakan komunitas ojol maupun mengatasnamakan memperjuangkan nasib ojol, padahal di tengarai di balik itu semua, mereka di duga memiliki kepentingan politik maupun kepentingan bisnis yang justru berdampak merugikan Ojol.

Baca Juga :  Pelantikan Yogi Rusyogi Affandi Sebagai Ketua PDK 2 Kosgoro Jaksel, Diapresiasi Bang Moo Caleg DPRD DKI Jakarta dari Partai Golkar no.10 Dapil Jakarta 9

” Sudah berulangkali kami menyatakan kepada pemerintah maupun Kemenhub, ke masyarakat dan ke DPR bahwa Ojol bukan pekerja, bukan buruh dan bukan pekerja mandiri, tapi mereka memaksakan diri agar status ojol sebagai pekerja, sampai ngemis ke ILO, ini ada apa dengan mereka itu, Indonesia negara berdaulat tidak boleh tunduk kepentingan lembaga internasional” tegas Andi Kristiyanto.

Hal senada juga di sampaikan H. Obon Tabroni anggota komisi IX DPR RI dari fraksi Partai Gerindra, dirinya juga mengatakan menolak Ojol jadi pekerja, dan menolak di masukkan nya ojol dalam revisi UU nomor 13 tahun 2003.

” Tadinya saya bingung, karena ada aspirasi yang menyatakan ojol sebagai pekerja, tapi setelah mendapatkan masukan dari Rekan rekan Koalisi Ojol Nasional, saya baru sadar bahwa benar ojol bukan pekerja, dan bukan buruh, mereka adalah mitra”tandas H. Obron Tabroni anggota komisi IX DPR RI dapil kab Bekasi & kota Bekasi.

Baca Juga :  Pj Gubernur DKI Jakarta Harus Bisa Tertibkan ASN Bertindak Legalkan Larangan Berdagang di Trotoar Pemicu Banjir

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa saat ini dirinya juga termasuk anggota team perumus revisi UU nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, dan dari pembahasan revisi UU tersebut, diakui olehnya dirinya masih mencari masukan dari komunitas ojol, dan nyatanya komunitas ojol memiliki pandangan sangat berbeda dengan aspirasi dari kalangan organisasi buruh, ya, tentunya setelah dirinya mendapatkan masukan dari Koalisi Ojol Nasional, terkait dampak buruk dari ojol berstatus sebagai pekerja.

Dalam kesempatan acara sosialisasi Gerakan Masyarakat Sehat di adakan oleh kementerian kesehatan RI Bersama H Obron Tabroni Anggota Komisi IX DPR RI, yg di hadiri sebanyak 500-an orang dari komunitas ojol, serta pembicara dari kementerian kesehatan dan dinas kesehatan Provinsi Jawa Barat.

Koalisi Ojol Nasional ( KON) juga berkesempatan membacakan Petisinya yang berisikan sebagai berikut:

1. STOP POLITISASI OJOL OLEH PARA ELIT POLITIK DAN PEJABAT NEGARA

2. TOLAK OJOL SEBAGAI PEKERJA TETAP

3. TOLAK POTONGAN 10% YANG TANPA KAJIAN DAN BERDASAR YANG AKAN BERDAMPAK NEGATIVE PADA MITRA DRIVER

4. TOLAK KEPENTINGAN PRIBADI & KELOMPOK YANG MENGATASNAMAKAN OJOL

Tags :

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Negara di Era Perang Narasi; Polarisasi Agama: Retak yang Dipelihara (3 – End)

Dhio Justice Law

29 Apr 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia – LAKI) NasionalPos.com, Jakarta – Polarisasi tidak selalu terjadi dengan sendirinya. Sering kali, ia dibentuk—lalu dipelihara. Dalam lanskap politik kontemporer, konflik jarang lahir dari ruang hampa. Ia dirancang melalui narasi, diperkuat oleh repetisi, lalu dilegitimasi oleh emosi kolektif. Di titik inilah agama menjadi variabel yang paling sensitif sekaligus …

Lomba Baca Puisi Tingkat SD dan Talk show Sastra Di Gelar Jaker Kudus

dito

29 Apr 2026

NasionalPos.com, Kudus- Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER) Kabupaten Kudus menggelar diskusi/talkshow sastra bertajuk “Sastra Untuk Negeri” dalam rangka memperingati Bulan Puisi 2026, Sabtu (25/4/2026), di Sidji Coffee, Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus.   Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB ini mengangkat Tema Sastra (Puisi) Untuk Negeri Sub tema “Menemukan Makna Dalam Setiap Karya”   Serta …

Tragedi Little Aresha Yogyakarta, Catatan Penting Bagi Orang Tua, Masyarakat dan Pemerintah

dito

29 Apr 2026

Di tulis dan di sampaikan oleh Waspada,S. Ag, MM Dosen PG PAUD UNUSIA & Wakil Ketua KPAD Kabupaten Bogor. Tragedi memilukan yang dilakukan oleh pengelola Daycare dan pekerjanya seperti di Daycare Little Aresha Yogjakarta, sesungguhnya bukan yang pertama kali. Sebelumnya telah terjadi hal serupa dibeberapa daerah, akan tetapi hal tersebut tidak membuat jera oleh oknum pengelola …

Negara di Era Perang Narasi: Disinformasi: Senjata Tak Kasat Mata Yang Melumpuhkan (2)

Dhio Justice Law

28 Apr 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia – LAKI) NasionalPos.com, Jakarta – Perang modern tidak selalu dimulai dengan serangan fisik. Ia sering kali dimulai dari sesuatu yang tampak sepele: informasi yang dipelintir. Di era digital, peluru pertama bukanlah rudal—melainkan narasi. Dan yang ditembak bukan tubuh, tetapi persepsi. Disinformasi bekerja tanpa suara, tanpa jejak yang kasat …

Negara di Era Perang Narasi: Negara Kalah karena Kehilangan Narasi (1)

Dhio Justice Law

26 Apr 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia- LAKI)   NasionalPos. Com, Jakarta – Negara jarang runtuh karena kekurangan kekuatan. Ia runtuh ketika kehilangan kendali atas makna. Hari ini, kekuasaan tidak lagi semata ditentukan oleh siapa yang menguasai wilayah, sumber daya, atau aparat keamanan. Kekuasaan semakin ditentukan oleh siapa yang mampu mengendalikan persepsi publik—siapa yang dipercaya, …

Unjuk Rasa Terbesar? 5.000 Massa Siap Padati Kantor Bupati Banyuwangi

- Banyuwangi

25 Apr 2026

Banyuwangi, Nasionalpos.com – Sekitar 5000 massa direncanakan akan turun ke jalan dalam sebuah aksi unjuk rasa besar yang dijadwalkan berlangsung pada tanggal 6 Mei 2026 di Depan Kantor Bupati Banyuwangi. Aksi ini digelar sebagai bentuk tuntutan masyarakat yang mendesak agar Bupati dan Wakil Bupati Banyuwangi segera mengundurkan diri dari jabatannya. Koordinator aksi,Mohamad Amrullah,S.H.M.Hum. menyampaikan bahwa …

x
x