Home » Headline » Pembebasan empat pulau Aceh Singkil : Simbol Perlawanan Rakyat?

Pembebasan empat pulau Aceh Singkil : Simbol Perlawanan Rakyat?

Dhio Justice Law 14 Jun 2025 149

Assoc.Prof.Dr.TB.Massa Djafar

Ketua Program Doktor Ilmu Politik, UNAS. 

 

Praktek pemerintahan 10 tahun dibawah rezim Jokowi, semakin jauh dari spirit Undang Undang Dasar 1945 dan nilai-nilai Pancasila. Hanya sebatas jargon politik, yang sering dipidatokan oleh para pejabat.

Menyimak amburadul tata kelola sumber daya alam selama ini cenderung merusak ekosistem. Karena itu, berbagai pertanyaan kritis perlu diajukan. Apakah benar ekplorasi tambang minyak, emas, batu bara, pasir, nikel dari Sabang sampai Meuroke dinikmati oleh anak bangsa ? Sudah jadi rahasia umum, hasil kekayaan sumber daya alam pihak asing/aseng yang sangat diuntungkan. Termasuk para elit politik, ekonomi, oknum aparatur pemerintah dan keamanan yang jadi kaki tangan oligharki.

Konspirasi asing/aseng dan negara, dengan beban hutang, kenaikan pajak, kebocoran anggaran, sangat mencekik rakyat. Sangat tidak adil. Kenapa semua ekses pembangunan dipikul oleh rakyat ? Tak bisa dibantah, kebijakan acakadul pemerintah, berkorelasi meningkatnya angka kemiskinan. Kini jumlah penduduk miskin Indonesia mencapai 160 juta. Angka ini sangat fantastis selama Indonesia merdeka. Sungguh memilukan.

Lihat lah, ketimpangan sosial ekonomi ekstrim bukan semakin berkurang. Ketimpangan itu sangat telanjang. Jawa dan luar jawa, pusat dan desa. Kesenjangan antar golongan, antar wilayah. Kekayaan negeri ini dinikmati segelintir orang, hanya 1 % kurang, dari jumlah penduduk Indonesia.

Negara ini telah dibajak oleh oligharki. Relasi ekonomi politik yang dibangun telah merusak tatanan politik, ekonomi dan hukum. Gaya kolonialis masi melekat pada prilaku aparat dan elit pemerintahan. Kebijakan yang buruk, tatanan hukum, ekonomi dan politik yang rusak. Çiri-ciri itu dikemukakan Aksemoglu & Robinson (2018), Indonesia berpotensi besar, akan jadi negara gagal (failed state)

Lihatlah, kasus korupsi tidak lagi dalam bilangan milyar, tapi trilyunan. Perampasan kekayaan negara dan hak-hak warga negara berlangsung sangat telanjang dan sadis. Tak ubahnya, seperti dibawah rezim kolonial tempo doeloe.

Baca Juga :  "Pemda Tak Respon" Masyarakat dan Komunitas Sopir Desa Jambu Kecamatan Burnih Bangkalan Meminta Perbaikan Jalan Yang Rusak,

“Pencaplokan” wilayah pesisir Rempang Propinsi Riau, PIK 1 dan PIK 2 dan dilanjutkan beberapa kawasan pesisir Nusantara. Perambahan penguasaan wilayah pesisir dimanipulasi sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). Perampasan kekayaan tambang nikel di wilayah Indonesia Timur sudah diluar akal sehat.

Ķasus sedang mencuat kerusakan ekosistem raja ampat sudah diluar akal sehat. Keserakahan para oligharki dan koorporasi asing, menegaskan kembalinya neo-kolonialisme dalam sejarah modern Indonesia.

Keserakahan dan ketamakan para oligharki, terus saja memperluas daerah atau wilayah jajahannya. Kasus yang sangat telanjang, dan mengejutkan rakyat se nusantara, para olighart mencaplok empat pulau di wilayah Kabupaten Aceh Singkil.

Ironisnya, kebijakan tersebut dikeluarkan Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian. Kemudian menuai protes keras. Bukan hanya dianggap sebagai kebijakan ngawur, karena itu kebijakan tersebut harus dicabut dan Tito Karnavian harus dicopot dari jabatannya.

Berbagai fenomena dan fakta yang terjadi tidak bisa dipungkiri. Bahwa proses pemiskinan rakyat sangat sistemik. Ketamakan para olighart yang didukung oleh instrumen kebijakan negara seakan tidak bisa dihentikan.

Dalam ketidak pastian, rakyat perlu mempertanyakan, apa makna NKRI harga mati ? Pembangunan dan kesejahteraan buat siapa ? Apakah negara masih hadir dalam dalam menyelesaikan pelbagai problematik yang dihadapi rakyat ?

Perlawanan rakyat aceh, atas pencaplokan 4 pulau, daerah pesisir Aceh Singkil, mengisyaratkan, bahwa kedaulatan rakyat masih ada. Tokoh dan Ulama Aceh Singkil, menegaskan tidak akan mundur selangkah pun. Karena, ini menyangkut harga diri dan kehormatan rakyat Aceh.

Berbagai analisis pun berseliweran. Mereka menilai, kebijakan Mendagri cacat hukum dan secara politik punya tendensi adu domba. Timbulkan konflik horizontal. Kemungkinan lain, ini skenario untuk melemahkan Presiden Prabowo.

Lebih jauh dari itu. Juga dikaitkan, ini bisa jadi sebagai proxy war. Untuk memecah belah, hingga Indonesia bubar.

Baca Juga :  Gempabumi M 5.8 Mamuju Tak Berpotensi Tsunami, Warga Diharapkan Tidak Panik

Kali ini ekspansi, keserakahan oligharki kena batunya. Hal ini angat mengejutkan. Seketika, para pemimpin Aceh bersama rakyat menolak keras kebijakan Tito Karnavian. Mereka minta mencabut keputusan Mendagri. Sikap keras penolakan rakyat serambi Mekah, mendapat dukungan berbagai elemen rakyat nusantara.

Penolakan ini, harus dibaca bahwa, kedaulatan rakyat masi ada. Masih eksis, meskipun meskipun ditengah represif. Rakyat pribumi akan bangkit, takkan membiarkan perampasan hak-hak atas tanah mereka. Yang menarik adalah, perlawanan rakyat terhadap ketamakan oligharki, harus dibaca dalam dua makna. Pertama sebagai penyelamatan NKRI. Kedua, sebaliknya, semakin memperkuat proses dis‐integrasi bangsa. Salah salah NKRI bisa bubar.

Sejumlah fakta empiris itu, mengkonfirmasi analìsa para pengamat. NKRI akan bubar tahun 2030 an ??? Hal itu bukan tidak mungkin, Aceh dan Papua menjadi kunci pertahanan dan ketahanan integrasi bangsa.

Proyeksi ancaman disintegrasi bangsa dan potensi bubarnya NKRI, pernah digaungkan dan jadi isu kampanye calon Presiden Prabowo, pilpres tahun 2019. Karena itu, Presiden Prabowo sebagai mandataris rakyat, harus mengambil langkah tegas terhadap antek asing dan aseng, para olighart, atau siapa saja yang ingin menciptakan pra kondisi, yang berujung Indonesia bubar.

Karenanya, langkah konyol mendagri, juga kebijakan sektor lainnya juga bisa menuai disintegrasi bangsa. Penyebabnya, bukan kelompoķ masyarakat atau rakyat yang kerap dijadikan kambing hitam. Tapi justru datangnya dari negara.

Dengan kata lain, kerusakan negeri ini, lebih banyak diproduksi oleh negara itu sendiri melalui kebijakan menyesatkan.

Rakyat adalah pemilik sejati kedaulatan. Tidak ada pilihàn. Para pemimpin dan rakyat harus melawan setiap ketidak adilan dàn kerusakàn di negeri ini. Atau membiarķan NKRI bubar ???

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Dinsos Sumbar Apresiasi Visi Kapolda Sumbar dalam Pembinaan Karakter Siswa Sekolah Rakyat

Primadoni,SH

05 Mar 2026

Padang, Sumbar, Nasionalpos.com –– Visi dan komitmen Irjen Pol Gatot Tri Suryanta dalam membina karakter siswa di lingkungan Sekolah Rakyat (SR) mendapat apresiasi dari Dinas Sosial Provinsi Sumatera Barat. Program pembinaan yang diinisiasi Kapolda Sumbar tersebut dinilai sebagai langkah strategis dalam membentuk generasi muda berkarakter kuat sekaligus memutus mata rantai kemiskinan. Apresiasi itu disampaikan Kepala …

Kontroversi Penjualan Seragam di SMKN 3 Bale Endah: LSM GEBRAK Minta Gubernur Jawa Barat Turun Tangan

Dewi Apriatin

03 Mar 2026

Kontroversi Penjualan Seragam di SMKN 3 Bale Endah: LSM GEBRAK Minta Gubernur Jawa Barat Turun Tangan ‎Bandung, 3 Maret 2026 – Ketua DPP LSM GEBRAK, Ichsan Nurbudina, mengungkapkan kekecewaannya atas tidak adanya tanggapan dari Bidang SMK Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat terkait kasus penjualan seragam di SMKN 3 Bale Endah. LSM GEBRAK telah melayangkan surat …

Respons Aspirasi Pedagang, Pemdes Cipendeuy Buka Dialog Soal Sistem Parkir Pasar Cipeundeuy

Dewi Apriatin

02 Mar 2026

Bandung Barat,NASIONALPOS .COM<>   2 Maret 2026 – Pemerintah Desa Cipendeuy, kecamatan Cipeundeuy melalui Dinas Perhubungan memberikan Klarifikasi terkait pemberitaan yang menyebutkan pemasangan gateway parking di Pasar Tradisional Cipeundeuy dilakukan tanpa sosialisasi dan perencanaan yang matang. Pihak terkait menegaskan bahwa pembangunan sistem parkir tersebut telah direncanakan sejak lama sebagai bagian dari upaya penataan tata kelola pasar …

Momentum Kedua Anas Urbaningrum dalam Pentas Politik Nasional

Dhio Justice Law

01 Mar 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia-LAKI) NasionalPos.com, Jakarta – Pesta Demokrasi Tanah Air masih tiga tahun lagi, namun publik mencermati mesin politik mayoritas partai politik mulai dipanaskan. Branding partai dan sosok atau figure pun dibangun. Meski ada pesimis dibenak sebagian publik Tanah Air menyaksikan sepak terjang para elit politik yang kerap mengecewakan dan tak …

Tanda Tangan Ketua DPRD Diduga Dipalsukan, Skandal Undangan PAW Pesibar Memanas: Siapa Aktor Intelektualnya

Admin Redaksi

28 Feb 2026

NASIPNALPOS.com PESISIR BARAT, 28 Februari 2026 – Aroma skandal mencuat dari gedung DPRD Kabupaten Pesisir Barat. Tanda tangan Ketua DPRD dalam surat undangan pertama pelantikan Pergantian Antar Waktu (PAW) anggota DPRD diduga dipalsukan. Kasus yang sempat menjadi bisik-bisik internal kini resmi memasuki babak hukum. Ketua DPRD Kabupaten Pesisir Barat, Mohammad Emir Lil Ardi, atau yang …

Darurat Tak Bisa Menunggu: Dugaan Kelalaian IGD RSUD Cikalong Wetan Uji Kepatuhan Hukum

Dewi Apriatin

27 Feb 2026

Darurat Tak Bisa Menunggu: Dugaan Kelalaian IGD RSUD Cikalong Wetan Uji Kepatuhan Hukum BANDUNG BARAT – Dugaan tersendatnya penanganan pasien sesak napas di IGD RSUD Cikalong Wetan bukan sekadar isu pelayanan. Ini menyentuh jantung kewajiban hukum rumah sakit dalam kondisi gawat darurat. Video yang beredar memperlihatkan kepanikan keluarga yang merasa anaknya tidak segera ditangani. Di …

x
x