Home » Headline » PMKRI SOROTI DUGAAN PEMBIARAN POLRES MANGGARAI, PENANGANAN KASUS PENGEROYOKAN KETUA PMKRI JAKARTA PUSAT DINILAI TIDAK PROFESIONAL

PMKRI SOROTI DUGAAN PEMBIARAN POLRES MANGGARAI, PENANGANAN KASUS PENGEROYOKAN KETUA PMKRI JAKARTA PUSAT DINILAI TIDAK PROFESIONAL

dito 26 Jul 2026 1

Nasional pos.com, Ruteng-

Penanganan kasus dugaan pengeroyokan terhadap Ketua Presidium PMKRI Cabang Jakarta Pusat, Yohanes Jonianus, menuai sorotan tajam.

 

Pasalnya hingga beberapa hari setelah laporan polisi dibuat, belum terlihat adanya langkah penegakan hukum yang memberikan kepastian kepada korban.

 

Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius mengenai profesionalisme Polres Manggarai dalam menangani perkara kekerasan yang terjadi di arena Kongres dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) PMKRI di Ruteng.

 

Korban diketahui menjadi sasaran pengeroyokan oleh sejumlah peserta kongres setelah terjadi perdebatan dalam forum sidang komisi. Akibat insiden tersebut, korban mengalami luka sobek di bagian dahi hingga harus mendapatkan penanganan medis dan lima jahitan di RSUD Ruteng.

 

Laporan resmi telah disampaikan kepada Polres Manggarai pada Jumat, 24 Juli 2026.

 

Namun, sampai saat ini, proses penanganan perkara dinilai berjalan lamban dan belum menunjukkan perkembangan yang memberikan rasa keadilan kepada korban.

 

Di sisi lain, korban beserta pendampingnya mengaku masih menghadapi tekanan psikologis akibat dugaan intimidasi dan teror dari pihak-pihak yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut.

 

Terkait persoalan itu, Dewan Pertimbangan PMKRI Cabang Jakarta Pusat Eleonarius Dawa mempertanyakan komitmen aparat kepolisian dalam menegakkan hukum secara adil, profesional, dan tanpa pandang bulu.

 

“Kami mempertanyakan profesionalisme Polres Manggarai dalam menangani perkara ini. Korban telah memenuhi seluruh prosedur hukum dengan membuat laporan resmi, menyerahkan bukti, dan menjalani pemeriksaan. ” Ungkap Eleonarus Dawa kepada wartawan, Minggu, 26 Juli 2026 di Ruteng NTT

Baca Juga :  Polsek Klakah Berikan Himbauan Kamtibmas Ke Pedagang Kaki Lima di Area SPBU

 

Namun, lanjut Eleonarus Dawa, hingga hari ini belum ada kepastian mengenai langkah hukum yang diambil terhadap pihak-pihak yang diduga sebagai pelaku. Situasi ini menimbulkan kesan adanya pembiaran terhadap tindak kekerasan yang terjadi.

 

Menurutnya, keterlambatan penanganan perkara tidak hanya merugikan korban, tetapi juga berpotensi mencederai kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum.

 

“Ini bukan sekadar persoalan lambatnya proses administrasi. Korban dan para pendamping justru dibiarkan menunggu dalam ketidakpastian, sementara intimidasi dan teror masih terus dirasakan. ” Tukasnya

 

Lebih lanjut ia mengatakan Negara seharusnya hadir memberikan perlindungan kepada korban, bukan membiarkan mereka menghadapi tekanan seorang diri. Kondisi seperti ini sama sekali tidak mencerminkan penegakan hukum yang profesional.

 

Eleonarius juga mengingatkan bahwa kasus ini sudah viral dan menjadi perhatian luas karena terjadi dalam forum organisasi kader nasional yang selama ini menjunjung tinggi nilai fraternitas, intelektualitas, dan kristianitas.

 

Kekerasan yang terjadi di arena kongres telah mencoreng marwah organisasi sekaligus menjadi ujian bagi aparat penegak hukum dalam menegakkan keadilan secara objektif.

 

Ia juga memberikan peringatan kepada aparat kepolisian, apabila dalam waktu dekat tidak terdapat perkembangan yang signifikan, pihak korban menyatakan akan menempuh berbagai langkah hukum dan kelembagaan,

Baca Juga :  Selama Malam Perayaan Tahun Baru 2024 Di wilayah Prov DKI Jakarta, Terkumpul Sampah Sebanyak 130 Ton

 

“Termasuk menyampaikan pengaduan kepada Polda Nusa Tenggara Timur, Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Mabes Polri, serta lembaga-lembaga pengawas eksternal guna memastikan proses hukum berjalan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.” Tandas Eleonarus Dawa

 

Sementara itu, DPC PMKRI Cabang Jakarta Pusat menegaskan bahwa kekerasan tidak memiliki tempat dalam tradisi organisasi kader.

 

Perbedaan pandangan dalam forum musyawarah merupakan bagian dari demokrasi organisasi, tetapi penggunaan kekerasan fisik merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan dalam keadaan apa pun.

 

PMKRI Cabang Jakarta Pusat mendesak Polres Manggarai untuk segera mengusut tuntas perkara ini secara cepat, profesional, transparan, dan akuntabel.

 

Penegakan hukum yang tegas dinilai penting tidak hanya untuk memberikan keadilan kepada korban, tetapi juga sebagai pesan bahwa setiap bentuk kekerasan dalam ruang demokrasi dan organisasi harus diproses sesuai hukum yang berlaku.

 

“Bagi PMKRI Cabang Jakarta Pusat, penyelesaian perkara ini bukan semata menyangkut kepentingan seorang korban, melainkan menyangkut tegaknya supremasi hukum, perlindungan terhadap hak-hak korban, serta menjaga kehormatan organisasi yang selama puluhan tahun dibangun di atas nilai intelektualitas, solidaritas, dan kemanusiaan,” ucap Ketua DPC PMKRI Cabang Jakarta Pusat Yohanes Jonianus yang juga korban pengeroyokan

 

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Anak Dan Masa Depan Bangsa ( Refleksi Hari Anak Nasional 2026 )

dito

25 Jul 2026

Di tulis dan di sampaikan oleh H. Waspada MK, S.Ag, MM Wakil Ketua KPAD Kab. Bogor & Dosen PG PAUD UNUSIA Jakarta.       Dalam konteks Agama, anak adalah amanah Tuhan Yang Maha Kuasa, yang harus dirawat, dibimbing dan dipenuhi seluruh hak – haknya, serta dilindungi dari segala bentuk kekerasan.   Kenapa harus dilindungi …

Kongres PMKRI Di Ruteng, Ricuh, Ketua PMKRI Jakpus Di keroyok Hingga Alami Luka Berdarah

dito

25 Jul 2026

NasionalPos.com, Ruteng- Dewan Pengurus Cabang Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia Cabang Jakarta Pusat mengecam keras aksi kekerasan dan premanisme yang terjadi di arena Kongres dan Majelis Permusyawaratan Anggota /MPA PMKRI yang diselenggarakan di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Pasalnya telah terjadi Aksi tidak terpuji yang telah menimpa Ketua PMKRI Cabang Jakarta Pusat, Sdr. Yohanes …

“Dewi Uma: The Mirror Of Life Wariga Harmonisasi manusia dengan Alam Disambut Baik Warga Ukraina, Layak di kabarkan kepada Dunia”

dito

24 Jul 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Acara bincang-bincang tentang Wariga di The Wine Center, Bendungan Hilir, Central Jakarta, Jumat, 24 Juli 2026 antara Dewi Uma, Pengabar Wariga yang mempopulerkan Wariga Mirror (The Mirror of Life) dengan Mr Igor Tereshchenko First Secretary for Economic Affair Embassy Of Ukraine in Republic of Indonesia.   Pada kesempatan tersebut, Mr Igor Tereshchenko, mengatakan …

Kongres & MPA PMKRI: Momentum Reflektif Dalam Persimpangan Jalan Sebagai Kekuatan Moral

dito

22 Jul 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Ratusan delegasi dari 72 Cabang di seluruh Indonesia menghadiri Kongres XXXIV dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) XXXIII Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). Kegiatan akbar tersebut diselenggarakan di Ruteng, Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 19–25 Juli 2026. Menanggapi penyelenggaraan forum tertinggi organisasi tersebut, Dr Paulus Januar drg, MSi, CMC yang mantan Ketua Presidium …

Poros Rawamangun Desak Terbentuk nya Team Investigasi Terbengkalai nya Gedung SDN yang Roboh

dito

22 Jul 2026

NasionalPos.com, Jakarta-  Kondisi memprihatinkan SDN Kebayoran Lama Selatan 09 Pagi yang dibiarkan rusak selama hampir dua tahun menuai kritik dari berbagai kalangan.   Lambannya penanganan sekolah tersebut menjadi ironi, mengingat lokasinya berada di Jakarta yang merupakan pusat pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia, demikian di sampaikan Rudy Darmawanto SH Ketua Umum Poros Rawamangun kepada wartawan, Rabu, …

Berobat ke LN, Nanik S Denyang Mundur Sebagai Kepala BGN

dito

22 Jul 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Nanik Sudaryati Deyang mundur dari Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). “Dengan berat hati akhirnya saya pamit Bapak presiden untuk melakukan pengobatan di LN untuk jantung saya, rencananya hari ini, Rabu (22/7/2026) saya berangkat,” kata Nanik dalam status di akun Facebook-nya. “Ini bukan karena tidak percaya dokter yang hebat di Indonesia, tapi untuk second …

x
x