Home » Headline » Saatnya Pilih Rakyat Atau Benalu

Saatnya Pilih Rakyat Atau Benalu

Dhio Justice Law 30 Agu 2025 507

Oleh: Ridwan Umar
(Direktur Lentera Keadilan Indonesia-LAKI

 

NasionalPos.com, Jakarta – Pada Jumat (29 Agustus 2025) malam, Presiden Prabowo Subianto beserta rombongan Istana melayat ke rumah duka (almarhum) Affan Kurniawan di kawasan Blora, Menteng, Jakarta Pusat.

 

Affan yang sehari-hari berprofesi sebagai pengemudi ojek online (ojol) meninggal setelah dilindas mobil Brimob saat aksi unjuk rasa ribuan buruh menolak kenaikan tunjangan perumahan anggota DPR-RI pada Kamis (28 September 2025). Sebelumnya pada Senin (25 September 2025) aksi serupa oleh pelajar dan mahasiswa juga berlangsung di depan gedung wakil rakyat, Senayan, Jakarta

 

Saat itu sudah malam di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, Affan memarkir motor lalu menyeberang untuk mengantar pesanan pelanggan. Tetiba sebuah mobil Rantis (kendaraan taktis) barracuda milik Brimob menabraknya hingga tubuhnya terlindas dan terseret. Sejumlah massa yang menyaksikan peristiwa itu spontan berusaha memberhentikan mobil Rantis Brimob itu, namun mobil terus melaju meninggalkan tubuh Affan. Massa pun langsung membopong tubuh Affan ke mobil ambulan, namun Affan akhirnya mengembuskan nafas terakhir di RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo).

 

Presiden Prabowo tak hanya sekedar melayat, tapi juga telah berjanji untuk membantu keluarga Affan dan mengusut kasusnya secara transparan dan menghukum semua pelakunya.

 

Perhatian khusus yang dijanjikan Presiden itu sangat tepat bagi keluarga Affan yang tergolong miskin. Affan merupakan tulang punggung keluarganya. Sehari-hari Affan membanting tulang untuk membantu perekonomian keluarga termasuk membantu biaya pendidikan adiknya.

 

Namun, fenomena kehidupan miskin, sebenarnya bukan hanya dialami keluarga Affan. Di negeri ini jumlah rakyat miskin yang mengais rejeki untuk sekedar bertahan hidup sangat banyak dan itu semua tanggungjawab pemerintah. Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) per Maret 2025 jumlah orang miskin di Indonesia mencapai 23,85 juta jiwa.

 

Fakta lain, seorang balita usia 4 tahun bernama Raya dari keluarga miskin di Sukabumi, Jawa Barat akhirnya meninggal akibat cacingan. Pemandangan miris juga ada di acara pernikahan anak Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dimana tiga orang meninggal ditengah ribuan rakyat yang berebut makan gratis.

Baca Juga :  FORLUMNITASDIK-TRISAKTI Desak Menkopolhukam Tolak PTN-BH-Kan Usakti, Bubarkan Yayasan Trisakti Versi Pemerintah

 

Belum lagi, kehidupan anak-anak dari keluarga miskin di wilayah lain yang harus menyeberang sungai untuk sampai ke sekolah, serta para guru yang berjuang keras dengan gaji sangat minim bahkan diluar nalar. Ironisnya, disaat yang sama para elit negeri ini termasuk sejumlah pembantu Presiden dan orang-orang di lingkar Istana kerap memamerkan kemewahan hidup keluarganya.

 

Jika dicermati, kenaikan tunjangan perumahan bagi anggota DPR-RI sebesar Rp50 juta/bulan sebenarnya hanya pemicu ‘amuk massa’ yang berujung chaos di sejumlah daerah dan kota besar, seperti di DKI Jakarta, Makassar, Surabaya, Bandung, Semarang dan lainnya.

 

Aksi massa di Kota Makassar berujung pembakaran gedung DPRD setempat, ikut menyisakan pilu tatkala 4 orang dinyatakan tewas.

 

Penyebab amuk maesa dalam aksi hingga menelan korban jiwa dan kerusakan di mana-mana adalah kesulitan ekonomi yang mendera rakyat.

 

Keputusan DPR-RI memberi tunjangan perumahan itu, memicu kemarahan rakyat yang sedang menderita. Terlebih respon sejumlah anggota DPR-RI yang berjoget seolah bersuka ria setelah mengetahui adanya tambahan tunjangan perumahan.

 

Bukan hanya prilaku konyol yang dipertontonkan kalangan DPR, tapi juga pola komunikasi punlik yang sangat buruk. Begitupun komunikasi sejumlah menteri yang kerap menyakiti rakyat. Mereka memposisikan diri bak raja yang bebas bertutur dan bersikap meski hati rakyat tersakiti. Mereka tak memahami makna rakyat berdaulat dalam negara demokrasi. Rakyat itu pemegang kekuasaan tertinggi, sehingga pemerintah tak memiliki kekuasaan absolut melainkan pengemban amanat rakyat.

 

Aksi massa yang diwarnai amuk, seolah menjadi cara massa untuk meluapkan kekecewaan atas kebijakan pemerintah yang lambat menjawab ‘urusan perut’ rakyat. Tak hanya soal kebijakan penguasa yang lambat, tapi juga terkesan memilih merangkul para benalu ketimbang rakyatnya yang sedang terjepit ditengah himpitan ekonomi.

 

Faktanya, seorang terpidana bernama Silfester Matutina tak kunjung dieksekusi malah diberi jabatan komisaris BUMN, begitupun tersangka kasus pidana penodaan agama Ade Armando pun diberi posisi terhormat sebagai komisaris BUMN. Belum lagi, Budi Arie Setiadi yang diduga terseret kasus judi online masih dipertahankan diposisi sebagai Menteri Koperasi, Erick Thohir yang dinilai publik telah membuat BUMN nyaris bangkrut di era Jokowi juga dipertahankan dijabatan Menteri BUMN, dan pemberian penghargaan Maha Putera Adipradana kepada mantan koruptor Burhanuddin Abdullah. Serta sejumlah orang yang diduga terlibat korupsi dan terlibat konspirasi melahirkan anak haram konstitusi sebagai pendamping pemimpin negeri, kini masih menjabat menteri.

Baca Juga :  Tolak Intervensi Politik, Jampidsus DiDesak Periksa Segera Jhonny G Plate Sebagai Menkominfo

 

Kasus korupsi di era Jokowi yang sudah terungkap jika ditotal telah merugikan negara hingga ribuan triliun rupiah dinilai publik menjadi penyebab utama hancurnya perekonomian negara. Kondisi inilah yang menyebabkan rakyat makin miskin dan menderita.

 

Dengan kesulitan anggaran negara akibat bobroknya rezim pendahulu, mungkinkah program unggulan pemerintahan Prabowo akan sukses?

 

Penegakan hukum yang tumpul ke atas dan tajam ke bawah bukan ilusi di negeri ini, faktanya kasus korupsi yang telah dilaporkan masyarakat diantaranya laporan Ubedillah Badrun ke KPK terkait dugaan praktek KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) keluarga mantan Presiden Jokowi tak kunjung diusut. Sementara, Bambang Tri Mulyono dan Sugi Nur Raharja atau Gus Nur telah menjadi korban kriminalisasi dengan mendekam dipenjara. Pasalnya, Bambang Tri dan Gus Nur dipenjara lantaran mempersoalkan keasilan ijazah Jokowi, namun Jokowi tak pernah menunjukkan ijazahnya di pengadilan apalagi ke hadapan publik. Hingga kini, kasus ijazah Jokowi terus bergulir dan dipersoalkan pubik melalui Roy Suryo, Rismon Sianipar dan dr Tifa. Lagi-lagi, ketiganya dan sejumlah orang termasuk mantan Ketua KPK, Abraham Samad terancam jadi tersangka karena mempersoalkan ijazah Jokowi.

 

Semoga pemimpin negeri ini segera menyadari tumpukan masalah yang menjadi penyebab utama murkanya rakyat melalui aksi unjuk rasa. Pemimpin sejati akan memilih merangkul rakyatnya ketimbang menjaga keharmonisan dengan para benalu perusak negeri.

Wallahualam bissawab.

(Tulisan ini disari dari berbagai sumber)

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Dapur MBG beserta Aktivitasnya di Pulogebang Permai, Resah kan Warga, Warga Tuntut Tutup

dito

24 Jun 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Meski dapur MBG di komplek Pulogebang Permai RT 01/RW 12 Kelurahan Pulogebang dalam tahap persiapan operasi namun pada realitas nya di duga justru menimbulkan keresahan masyarakat dilingkungan komplek tersebut .   Adapun keresahan itu muncul antara dari soal Amdal yang dicurigai akan berdampak kepada masyarakat sekitarnya, baik masalah Bau, maupun masalah sanitasi, serta …

Poros Rawamangun Peringatkan Sudin Dishub Jakarta Timur, agar Bijaksana Dalam Lakukan Penertiban

dito

20 Jun 2026

NationalPos.com, Jakarta- Peristiwa pengemudi ojek online (ojol) yang memohon-mohon hingga menangis histeris karena motornya diangkut petugas Suku Dinas Perhubungan (Sudin Dishub) Jakarta Timur terjadi di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur. Kendaraan tersebut ditindak karena kedapatan parkir di atas trotoar yang melanggar aturan dan memicu kemacetan. Setelah video yang menayangkan Kejadian tersebut viral, hingga menuai respon simpatik …

KM Fortune Melimpah Disita, Nasib 1 Nahkoda dan 36 ABK Jadi Sorotan

- Banyuwangi

20 Jun 2026

Jakarta, Nasionalpos.com – Tim Kuasa Hukum PT Fortun Berkah Samudra menyampaikan keprihatinan atas penanganan perkara yang saat ini sedang berlangsung terhadap KM. FORTUNE MELIMPAH 99 GT 258. Perkara tersebut tidak hanya berdampak terhadap perusahaan sebagai pemilik kapal, tetapi juga berdampak langsung terhadap 1 (satu) orang nahkoda dan 36 (tiga puluh enam) Anak Buah Kapal (ABK) …

Klarifikasi Dugaan Pungli, SMAN 3 Painan Tegaskan Dana Orang Tua Merupakan Sumbangan Berdasarkan Kesepakatan Bersama

Primadoni,SH

19 Jun 2026

Pessel, Nasionalpos.com — Mencuatnya dugaan pungutan liar (pungli) di SMA Negeri (SMAN) 3 Painan, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), pihak sekolah bersama Komite Sekolah dan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Sumatera Barat (Sumbar) memberikan klarifikasi terbuka kepada publik. Mereka menegaskan bahwa dana yang selama ini dibayarkan oleh orang tua siswa bukanlah pungutan liar, melainkan sumbangan yang …

Ketum PP- PPM Paramita: PPM Siap sebagai solusi Ketahanan Nasional di bawah naungan Bacadnas

dito

19 Jun 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Panca Marga (PP-PPM), Patriani Paramita Mulia, SH., LL.M, beserta jajaran dan rombongan diterima dengan sangat baik oleh Kepala Badan Cadangan Nasional (Bacadnas), Letjen TNI Gabriel Lema beserta seluruh pimpinan Bacadnas pada Kamis, 18 Juni 2026 di Markas Besar Badan Cadangan Nasional di Jakarta.   Pada kegiatan ini, Letjen …

PRJ 2026 Tak Berpihak ke Warga Jakarta, Poros Rawamangun Desak Pemprov DKJ Evaluasi PRJ 2026

dito

15 Jun 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Jakarta Fair 2026 atau Pekan Raya Jakarta sudah di buka oleh Gubernur Pramono Anung pada tgl 12 Juni 2026 merupakan Event yang sudah dilaksanakan sejak tahun 1968 silam, dan untuk tahun 2026 ini, merupakan pelaksanaannya ke 57 kalinya.   Adapun untuk tahun ini, harga tiket masuk ajang pameran tahunan ini dibanderol mulai dari …

x
x